<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://arsyadindradi.net/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arsyadindradi.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 05:01:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>LOMBA CIPTA PUISI BAHASA BANJAR DAN MENGARANG CERPEN BAHASA BANJAR</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/lomba-cipta-puisi-bahasa-banjar-dan-mengarang-cerpen-bahasa-banjar/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/lomba-cipta-puisi-bahasa-banjar-dan-mengarang-cerpen-bahasa-banjar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 05:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;83';
			
		Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII di Tanjung,Kab.Tabalong,26 s.d 28 Nov 2010-bertema “SARABA KAWA” : Menjunjung Kesenian,Bahasa dan Sastra Daerah-difokuskan pd apresiasi kesenian,bahasa dan sastra daerah, dilaksanakan dalam bentuk Lomba Cipta Puisi bahasa Banjar,Lomba Mengarang Cerpen bahasa Banjar ( Karya Pemenang dibukukan), Penerbitan Buku Kumpulan Puisi Sastrawan Kalsel, Lomba Basyair dan Lomba Madihin.
I. Persyaratan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_83' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|83';
			</script>
		<p>Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII di Tanjung,Kab.Tabalong,26 s.d 28 Nov 2010-bertema “SARABA KAWA” : Menjunjung Kesenian,Bahasa dan Sastra Daerah-difokuskan pd apresiasi kesenian,bahasa dan sastra daerah, dilaksanakan dalam bentuk Lomba Cipta Puisi bahasa Banjar,Lomba Mengarang Cerpen bahasa Banjar ( Karya Pemenang dibukukan), Penerbitan Buku Kumpulan Puisi Sastrawan Kalsel, Lomba Basyair dan Lomba Madihin.</p>
<p>I. Persyaratan Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar dan Mengarang Cerpen Bahasa  Banjar :</p>
<p>    1. Lomba terbuka untuk umum, lampirkan fotocopy KTP/SIM /kartu identitas lain yang sah dan masih berlaku, sertakan biodata dan nomor telepon (HP) yang mudah dihubungi.</p>
<p>   2. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul,tiap satu judul puisi dikirim rangkap tiga ( 1 naskah asli, 2 fotocopy); tema bebas, masukkan dalam sampul tertutup, di sudut kiri atas tulis “Lomba Cipta Puisi bahasa Banjar Aruh  Sastra Kalsel VII” dikirim lewat pos atau diantar langsung ke sekretariat panitia pelaksana : d.a Tahura Advertisin, Jalan Sultan Adam RT 16 No.21 Banjarmasin.</p>
<p>3. Puisi diketik 1,5 spasi di kertas HVS kuarto (A4) karya asli,bukan<br />
    saduran/jiplakan/terjemahan dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun media apa pun. Puisi diketik secara manual maupun komputer (huruf Times New Roman,.Pont 12).</p>
<p>4. Lomba dimulai sejak diumumkan,ditutup 20 Agustus 2010 pukul 12.00 Wita.<br />
    Dewan juri akan menetapkan Juara I, II, dan III serta Harapan I,II, dan III. Para juara akan mendapatkan hadiah uang tunai Rp 3.000.000, Rp 2.500.000, Rp 2.000.000, Rp 1.500.000, Rp 1.250.000, Rp 1.000.000, serta piagam penghargaan.<br />
    Enam Puisi dan 20 puisi  nominasi (nonperingkat,tanpa hadiah)  akan dibukukan bersama enam cerpen juara Lomba Mengarang Cerpe Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalsel VII.  </p>
<p>5. Enam (enam ) pemenang utama akan diundang menerima hadiah dalam Aruh Sastra  Kalsel VII.  Akomudasi dan konsumsi disediakan panitia selama acara Aruh Sastra.</p>
<p>6. Hal-hal lain yang belum jelas dapat ditanyakan langsung di sekretariat panitia, atau contact person (0852 4995 4849 dan 0813 4957 3858).</p>
<p>II.   Panitia Aruh Sastra Kalsel VII dengan ini pula mengundang<br />
      sastrawan/budayawan agar dapat berhadir dalam acara Aruh Sastra tersebut.</p>
<p>III. Panitia akan mengundang sastrawan/budayawan nasional untuk ceramah/dialog sastra.</p>
<p>IV. SALAM SASTRA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/lomba-cipta-puisi-bahasa-banjar-dan-mengarang-cerpen-bahasa-banjar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIAH HADANING: DEWI PENUMBUH BENIH</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/diah-hadaning-dewi-penumbuh-benih/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/diah-hadaning-dewi-penumbuh-benih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 10:13:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=837</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;82';
			
		Oleh : Iwan Gunadi 
Buku setebal 700 halaman yang memuat 700 puisi itu diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat siang, 7 Mei lalu. Jumlah puisi tersebut tentu berkaitan dengan 70 tahun usia penulisnya.
Penerbitan dan peluncuran buku itu tentu juga salah satu cara merayakan ulang tahunnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_82' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|82';
			</script>
		<p>Oleh : Iwan Gunadi </p>
<p>Buku setebal 700 halaman yang memuat 700 puisi itu diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat siang, 7 Mei lalu. Jumlah puisi tersebut tentu berkaitan dengan 70 tahun usia penulisnya.<br />
Penerbitan dan peluncuran buku itu tentu juga salah satu cara merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Ulang tahunnya sendiri sudah berlalu beberapa hari sebelumnya. Tepatnya 4 Mei 2010. Jumlah 700 puisi itu membuktikan produktivitas yang luar biasa seorang Diah Hadaning. Karena buku terbitan Pustaka Yashiba, Jakarta, itu bertajuk 700 Puisi Pilihan Perempuan yang Mencari, kata pilihan tersebut tentu menunjukkan bahwa puisi yang pernah ditulis perempuan bernama lengkap Sinaryu Indiah Hadaning ini lebih dari itu atau bahkan jauh lebih dari itu.<br />
Boleh jadi, belum ada satu buku pun besutan seorang perempuan penyair di Tanah Air yang setebal itu dan memuat puisi sebanyak itu. Tak heran jika Museum untuk Rekor Dunia-Indonesia (MURI) menasbihkannya sebagai penulis buku puisi tertebal pada usia tertua pada saat peluncuran buku itu.<br />
Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, ini seolah tak pernah lelah memadu-padankan kata menjadi karya sastra, khususnya puisi. Sejak puisinya pertamanya dipublikasikan di harian Simfoni pada 1973 hingga sekarang, lebih dari 40 buku telah ditulisnya. Belasan di antaranya merupakan buku antologi puisi tunggal. Tujuh di antaranya terbit pada tahun ini: selain buku puisi tadi, enam lainnya adalah Tembang Tanah Merdeka, Dunia Dongeng, Antara Jogja dan Bali, Mozaik Jakarta, Ada Bara Api di Jakarta, serta Elegi Muria dan Semak Bakau. Semuanya terbitan Pustaka Yashiba.<br />
Boleh jadi pula, belum ada seorang pun perempuan penyair atau bahkan termasuk lelaki penyair yang buku antologi puisinya diterbitkan dalam jumlah sebanyak itu dan dalam rentang waktu sependek itu. Fakta tersebut seperti ingin menabrak fakta lain bahwa buku puisi—siapa pun penulisnya—merupakan produk tak laku yang tak jemu diproduksi.<br />
Mbak Diha, begitu banyak orang menyapanya, juga seolah tak pernah lelah melangkah. Menyambangi pelbagai acara sastra di berbagai pelosok Nusantara, baik karena diundang maupun lantaran keinginan sendiri. Wilayah yang sulit dijangkau dengan kendaraan umum pun tak menghalangi langkahnya. Entah ketika langit masih terang atau ketika gelap sudah mengepung sejauh mata memandang.<br />
Di sela-sela kunjungannya ke berbagai tempat, jebolan Sekolah Pekerjaan Sosial Atas, Semarang, pada 1960 ini selalu membuka diri atau menyempatkan diri memotivasi dan membimbing bakat-bakat muda yang sedang belajar menulis karya sastra. Cara menjelaskannya yang sederhana, tutur katanya yang halus, serta sikapnya yang santun dan ngemong memang membuat mereka senang dan nyaman berbincang dan menggali ilmu penulisan dan kehidupan darinya. Sepanjang pergaulan dengannya sejak 1996 hingga sekarang, saya tak pernah mendengar satu kata kasar pun dilontarkan perempuan yang pernah bekerja di Bahagian Bimbingan dan Penyuluhan Sosial, Kantor Wilayah Departemen Sosial Semarang selama 1960-1965 ini.<br />
Peran mantan guru di Sekolah Tuna Netra Dristarastra, Cawangan, Semarang, selama 1962-1963 ini sebagai talent scouter bermula&#8211;kalau tak salah ingat&#8211;dari posisinya sebagai redaktur mingguan Swadesi terbitan Jakarta sepanjang sebelas tahun (1987-1998). Melalui koran tersebut, Mbak Diha menyediakan sejumlah rubrik yang tak jauh berbeda dengan yang disediakan Umbu Landu Paranggi di mingguan Pelopor terbitan Yogyakarta pada 1970-an, lalu dilakoninya kembali di harian Bali Post terbitan Denpasar, Bali, pada 1980-an. Begitu pula yang dilakukan Saini K.M. sejak 1979 melalui harian Pikiran Rakyat terbitan Bandung, Jawa Barat.<br />
Yang membedakan mereka, Mbak Diha berdialog secara tertulis dengan para &#8220;mitra&#8221;-nya, sapaan yang kerap diucapkan atau ditulisnya untuk mengawali perbincangan di ruang publik. Selain menjawab dan atau membahas surat-surat konsultasi sastra yang datang dari pelbagai penjuru Tanah Air dalam rubrik bertajuk &#8220;Warung Sastra Diha&#8221;, penyair yang menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ini pun lumayan rajin memberi konsultasi lewat surat-surat balasan yang dikirim secara pribadi. Bahkan, sejak 1988, Rubrik &#8220;Warung Sastra Diha&#8221; dikembangkannya menjadi suatu komunitas sastra untuk mendukung aktivitas dan perannya di dunia sastra Indonesia.<br />
Setelah mingguan Swadesi tak lagi terbit sejak 1999, perannya sebagai talent scouter tak surut. Malah, kesempatannya untuk lebih sering mengunjungi para &#8220;mitra&#8221;-nya di berbagai daerah menjadi lebih luas. Lebih-lebih para &#8220;mitra&#8221; di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) yang memang berada pada orbit yang dekat dengan tempat tinggalnya di Cimanggis, Bogor. Kalau Umbu dapat disebut sebagai dewa penumbuh dan pemelihara benih di Yogyakarta serta Saini di Jawa Barat, di Jabodetabek, Mbak Dihalah dewinya. Banyak pekerja sastra sering menyebutnya sebagai ibu penyair Jabodetabek.<br />
Mungkin, dialah satu-satunya perempuan yang menjalani peran talent scouter secara intens dan tak kenal lelah di dunia sastra Indonesia. Sebuah peran yang tak diminati banyak orang. Hanya sedikit orang yang melakukannya. Itu pun kebanyakan lelaki. Selain yang fenomenal seperti Umbu dan Saini, beberapa lelaki lain dapat dijadikan contoh, yakni Herman Ks. di Medan, Sumatra Utara, pada 1970-an; Victor G. Rusdiyanto di Semarang pada 1980-an; Korrie Layun Rampan di Jakarta sekitar 1980-an, serta Piek Ardijanto Soeprijadi dan Widjati di Tegal dan sekitarnya pada era yang kurang lebih sama.<br />
Awal 2000-an, karena merasa sudah sepuh, Mbak Diha pernah mengungkapkan niatnya untuk tak lagi wara-wiri dalam pelbagai kegiatan sastra. Sebagai salah satu anggota Presidium Dewan Pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI) periode 2001-2004, dia juga mengajukan surat pengunduran diri. Salah seorang pendiri KSI ini ingin menjalani sisa hidupnya di Kaliurang, Yogyakarta, bersama keluarganya. Tapi, penyair yang gemar berpakaian serbahitam ini bertekad akan terus menulis karya sastra hingga napas terakhir, tapi perannya dalam kegiatan sastra hanya dilakoninya dari jauh. Tak terlibat langsung.<br />
Namun, masa istirahat tersebut tak berlangsung lama. Mbak Diha kembali wara-wiri untuk membaca puisi dan mengayomi para pemula di dunia sastra. Di KSI, dia lebih aktif menggerakkan sejumlah kegiatan. Sejak Juni 2009, Warung Sastra Diha juga hadir di dunia maya melalui www.warungsastradiha.blogspot.com. Bahkan, penyair yang pernah meraih Anugerah Puisi dari Gapena Anugrah Puisi, Malaysia, pada 1980 untuk manuskrip buku puisi Surat dari Kota ini dipercaya sebagai salah satu anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.<br />
Semua itu bisa dijalaninya lantaran hidupnya telah diserahkannya kepada dunia sastra tanpa melupakan perannya sebagai istri, ibu, sekaligus nenek. Yang tak kalah penting adalah dukungan ketangguhan fisik perempuan yang pernah menawarkan satu jam paduan pertunjukan puisi, teater, gending Jawa, tari, dan tembang dengan tajuk Kesaksian Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk asal ada orang yang berani membayarnya Rp1 miliar ini.<br />
Perihal vitalitasnya tersebut, Mbak Diha pernah mengungkapkan resepnya kepada sastrawan Kurnia Effendi: &#8220;Minum tirta-baskara, Dik.&#8221; Ketika Kurnia mengartikan tirta sebagai air dan baskara sebagai matahari, Mbak Diha membenarkannya: &#8220;Saya menyimpan air dalam botol warna hijau yang dijemur seharian, kemudian diembunkan sepanjang malam di luar rumah. Nah, pada pagi hari berikutnya, kita minum. Itu untuk vitalitas. Jika Adik kurang darah atau darah rendah, gunakan botol warna merah.&#8221; Resep tersebut telah dijalaninya sejak usia 35 tahun.<br />
Kepada Kurnia pula, Mbak Diha pernah menyampaikan satu obsesinya yang mulia dan belum terlaksana: &#8220;Dik, seandainya Tuhan memberi saya umur dan diparingi kekuatan, saya ingin memiliki padepokan kecil di pinggiran Jakarta atau Bogor yang dapat mewadahi kegiatan sastra dan budaya. Juga, untuk menampung para seniman yang masih terlantar di jalanan.&#8221; Semoga panjang umur, Mbak Diha dan keinginan itu menjadi kenyataan.</p>
<p>Lampung Post, Minggu, 13 Juni 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/diah-hadaning-dewi-penumbuh-benih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ARSYAD INDRADI: Anggur Duka Pengobat Jiwa</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/arsyad-indradi-anggur-duka-pengobat-jiwa/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/arsyad-indradi-anggur-duka-pengobat-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 10:06:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=835</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;81';
			
		Oleh: East Star from Asia
HANYA itu yang mampu terucapkan, semuanya luluh di matamu/ bulan yang tinggal seiris diamdiam bergegas ke rerumpun ilalang menumpahkan/ anggurdukanya. (Arsyad Indradi – Cermin Akhir Tahun).
ANGGUR DUKA, judul antologi yang memuat 75 buah puisi ini. Kata anggur dua kali disebut dan kata duka sembilan buah, pada delapan puisi saja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_81' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|81';
			</script>
		<p>Oleh: East Star from Asia</p>
<p>HANYA itu yang mampu terucapkan, semuanya luluh di matamu/ bulan yang tinggal seiris diamdiam bergegas ke rerumpun ilalang menumpahkan/ anggurdukanya. (Arsyad Indradi – Cermin Akhir Tahun).<br />
ANGGUR DUKA, judul antologi yang memuat 75 buah puisi ini. Kata anggur dua kali disebut dan kata duka sembilan buah, pada delapan puisi saja. Dan, pasangan kata anggur – duka, hanya pada puisi pendek tiga baris Cermin Akhir Tahun. Namun, pada puisi-puisi yang beragam tema dari tentang diri pribadi, sahabat, sosial, nasionalisme, adat budaya, lingkungan, sampai ketuhanan, sangat banyak ungkapan kata senada dengan anggur dan duka. Tentu, sekali lagi, selaku pembaca boleh curiga atau menambah perhatian akan kemungkinan keistimewaan Cermin Akhir Tahun, menyimpul semua yang tumpah terucap.<br />
Untuk memuluskan jiwa mereguk Anggur Duka, ini cuplikan bait puisi berkenaan dua kata itu: Disebuah Watas (puisi ke sembilan),  Di serambi villa,/ Mencuci segala dukalara/Kulunaskan riwayat yang sudahsudah/ Didekapan cahya matamu. Lalu, Mestikah Risau : Memoriam Kalimantanku punah (14), Mestikah risau. Sebab masih ada guntungguntung tempat mencuci duka. Masihkah risau. Kemudian, Cermin Akhir Tahun (16) hanya itu yang mampu terucapkan, semuanya luluh di matamu/  bulan yang tinggal seiris  diamdiam bergegas ke rerumpun ilalang menumpahkan/ anggurdukanya. Berikutnya, Masih Membaca Malam Rindu Yang Dalam (33)  Syair membasah dijelagamalam/ Untaidemiuntai kujemur di ayatayatzikir/ Kujemur segala  duka.  Juga, Reruntuhan Hujan (34), Di dalam rindu. Mestinya tak perlu duka./ Tapi siapakah yang menggetargetar padang ilalang/ yang kehilangan rimba ?/ Anggur. Selain, Bawanang (54) Sebab kedamaian hakiki yang tertulis dalam kitab keharingan/ Telah tercemar/ Penambang intan dan emas yang datang/ Membunuh riamriam dan sungaisungai/ Puakapuaka terusir ke padang kedawang/ Paramasan berduka/ Paramasan berduka dalam tapa yang menyimpan misteri sunyi. Dan, Sajadah Rindu (67) Memandang langit dikepak burungburung/ Karang tempat berteduh dukalara. Serta terakhir, Kwatrin Rindu (69) Hai datanglah yang menjadikan/aku duka/ Tapi jangan kau usik lagi rinduku/ Alir nafas mengalir asmamaha/  muara kasih sayang/ Dimana tempat kan berajal<br />
Adakah tambahan lain memaknai antologi Anggur Duka? Anggur tanaman buah perdu merambat untuk minuman, jus, jelly, minyak biji, kismis, atau dimakan langsung. Ditanam sejak 4000 SM di Timur Tengah. Pengolahan minumannya baru tahun 2500 SM oleh bangsa Mesir, yang cepat tersebar ke berbagai penjuru dunia, apalagi setelah buah ini dibawa Columbus mengitari dunia. Ragam warna buahnya merah, ungu, hijau dan kuning. Minuman anggur hasil fermentasi gula anggur, dengan jenis Red Wine, White Wine, Rose Wine, Sparkling Wine, Sweet Wine, dan Fortified Wine: Anggur terkenal bermanfaat, mampu memperbaiki fungsi ginjal, membentuk sel darah, antivirus dan antikanker, meningkatkan kecantikan kulit dan menurunkan kadar kolesterol. Anggur juga menghilangkan rasa capek, menguatkan jantung, serta mampu membersihkan racun di dalam hati. Sedang kata duka, mengacu pada suatu keadaan emosi yang ditandai dengan perasaan dari kerugian, kehilangan, dan tak berdaya.<br />
Adalah sangat mungkin, antologi Anggur Duka tumpahan beragam warna duka yang diolah ucap menjadi anggur hidup pengobat jiwa. Tempat bagi penyair mencuci dan menjemur segala yang menjadikannya duka. Juga untuk pembaca siapa pun sebentar melepas dahaga, yang capek mendengar, melihat dan merasakan racun kehidupan serupa.<br />
ANDA tidak mereguk maknanya?<br />
*) East Star from Asia, Sastrawan  Kalimantan Selatan, sementara berdomisili di Banjarbaru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/arsyad-indradi-anggur-duka-pengobat-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lima Puisi Romantis dari FB ( Edisi 1 )</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/lima-puisi-romantis-dari-fb-edisi-1/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/lima-puisi-romantis-dari-fb-edisi-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 17:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=833</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;80';
			
		Ubay Baequni
TAMPARANMU 
Setelah kulumat bibirmu waktu itu
Kau reflek menamparku, kemudian menunduk malu
Kau pun mengira perjalanan kita ini berakhir
Di saat rintik-rintik hujan dan kilatan petir
Yang tidak saja memerahkan pipimu, juga bibir
Tapi menyambar mukaku juga untuk sejenak berpikir
Masih setiakah hatiku? Begitu makna dari sorot matamu
Kesetiaan yang kutambatkan padamu
Telah lama menjaram berbalut nafsu
Hingga sore itu, kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_80' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|80';
			</script>
		<p><strong>Ubay Baequni</strong></p>
<p><strong>TAMPARANMU </strong></p>
<p>Setelah kulumat bibirmu waktu itu<br />
Kau reflek menamparku, kemudian menunduk malu<br />
Kau pun mengira perjalanan kita ini berakhir<br />
Di saat rintik-rintik hujan dan kilatan petir<br />
Yang tidak saja memerahkan pipimu, juga bibir<br />
Tapi menyambar mukaku juga untuk sejenak berpikir<br />
Masih setiakah hatiku? Begitu makna dari sorot matamu</p>
<p>Kesetiaan yang kutambatkan padamu<br />
Telah lama menjaram berbalut nafsu<br />
Hingga sore itu, kau pun memberitahu<br />
Bahwa penantian tak selamanya memihak<br />
Dan meminangmu menjadi seorang ratu</p>
<p>Aku tak bisa memastikan<br />
Iringan rebana, janji suci dan kalungan melati<br />
Bakal menjemputmu nanti<br />
Aku mungkin hanya bisa meyakinkan<br />
Kepadamu, bahwa jodoh takkan kemana<br />
Meskipun jarak mejauhkan<br />
Kesetiaanlah yang akan mendekatkan</p>
<p>Setelah kulumat bibirmu untuk kedua kalinya<br />
Kau spontan mendongakkan wajah; memasrah<br />
Dan kau pun menuntunku agar melepaskan rindu<br />
Ketika kucoba meredupkan kedip lampu</p>
<p>Baiklah sayang, kita selesaikan dulu<br />
Tamparan genitmu waktu itu<br />
Kenapa? Apakah ada yang salah?<br />
Ketika kemunafikan begitu berkuasa<br />
Sedangkan aku begitu menjaga<br />
Cintamu yang sedemikian meraja</p>
<p>Sebelum kau menjawabnya<br />
Untuk yang ketiga kalinya kau malah meminta<br />
Untuk dipeluk dan dicumbu, terutama di belahan dada<br />
Kali ini, kau tak menamparku lagi<br />
Bahkan kini, kau melucutkan sendiri<br />
Kancing baju serta BH dengan tergesa-gesa<br />
Sedangkan aku, hanya diam<br />
Yah, diam. Harus mengucapkan apa?<br />
Hanya saja jantungku bergetar<br />
Begitu hebat dan luar biasa gemetar</p>
<p>Lidahku seperti mati rasa<br />
Tanganku pun kaku entah mengapa<br />
Tak mau menjamah apalagi mencoba bergerak<br />
Atau sekedar memberi isyarat gejolak saja<br />
Tidak sama sekali. Namun, birahiku menyala-nyala<br />
Menghidupkan kamar dan memeriahkannya</p>
<p>Lama juga aku terdiam<br />
Dan lambat-laun kau pun membungkam<br />
Hanya berpeluk dingin di celah temaram<br />
Mengenakan kembali yang kau lucuti tadi<br />
Lantas membalikkan badan, menjauhi</p>
<p>Mulutku yang masih tertutup rapat<br />
Tak bisa memberikan isyarat<br />
Bahwa malam itu kita dipadatkan<br />
Dengan cinta, rindu dan nafsu<br />
Bukan kesetiaan yang selama ini<br />
Aku jaga sepanjang musim berganti</p>
<p>&#8230;., 2010</p>
<p><strong>Kwek Li Na:<br />
</strong><br />
<strong>BAYANGANMU</strong></p>
<p>Mestikah kubiarkan<br />
Rinduku berdetik<br />
Pada jam waktu yang tak pernah mundur</p>
<p>Dalam diam. Menghitung dengkur malam<br />
Menyaksikan cahaya bulan yang enggan keluar<br />
Terhalang bayanganmu yang kian memancar </p>
<p>Taiwan, 4 Mei 2009 </p>
<p><strong>Dimas Arika Mihardya<br />
</strong><br />
<strong>SAJAK UNTUK YESSIKA</p>
<p>(1)</strong></p>
<p>yang terbayang hanya jemarimu saat menyapa bibirku<br />
sembari berkata: &#8220;adakah keabadian seusai kebisuan dan<br />
kebisingan rayuan setiap saat? berapa harga sebait doa<br />
yang melangit?&#8221; kau tak menjawab, hanya kian merapat<br />
dan mengusap wajahku yang berdebu</p>
<p>(2)</p>
<p>kau selalu membuka jendela, hingga ruang pertemuan<br />
menghangat saat kita saling dekap semalaman di ranjang<br />
waktu menggelinjang. kaulah yang mengajarkan bagaimana<br />
aku menyebut indah namamu malam itu, yessika<br />
sungguh kita mengarungi bahtera bahagia</p>
<p>(3)</p>
<p>di jalan pasir berliku kutahu banyak tapak jejak untuk kembali<br />
dalam dekapmu, yessika. aku mulai merasa harum tubuhmu<br />
saat lidah ombak menyapu gambar hati terpanah di pantai<br />
saat camar gemetar di tiang layar, kau pernah berujar:<br />
perahu berlayar ke pangkuan!</p>
<p>(4)</p>
<p>sajak putih yang kugubah, yessika<br />
adalah cermin yang menyumbulkan bayang cantik parasmu<br />
saat bersolek memoles dan memulas alis mata cahaya<br />
sajak yang tak letih menulis harum rambutmu<br />
adalah bahasa diam, jauh dari mendendam</p>
<p>(5)</p>
<p>yessika, telah kurenggut topeng di muka pura<br />
kini aku telanjang bugil dalam gigil mengekalkan<br />
peradaban: ritual peribadatan!<br />
riak dan ombak menjilat pantai sekadar untuk terburai<br />
mengurai makna cinta!</p>
<p>Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 2010</p>
<p><strong>Eko Putra<br />
</strong><br />
Serenade Diam<br />
- teringat Reni Oktari</p>
<p>mungkin untuk kesekian-kalinya angan-angan mengalahkan bahasa untuk kuterjemahkan ke dalam matamu yang menyimpan rasa cemburu<br />
atau di lorong tak berpenghuni menjadikan kita saling menatap masing-masing isyarat. kitapun melemparnya ke atas. kau bergumam : aku menyukai bintang. tunggulah sebentar di bangku itu, aku ingin di sini menatapnya. tapi malam melayang ke sisi, tepat di antara angin yang tak dipetakan di buku diary, dan alamat kusimpan di lemari. membuat aku malas mengeja tanganmu yang bertolak menuju kenangan mati<br />
sejak buku-buku mencatatnya, kau tak mungkin mengubah halaman yang ditumbuhi surat-surat dan pintu-pintu yang tak pernah terbuka oleh siapapun, termasuk aku<br />
tetaplah diam, manakala aku menuliskan kembali ingatan yang jatuh dilindas puisi</p>
<p>2009</p>
<p><strong> Arif Agus Bege&#8217;h</strong></p>
<p><strong>Sama Saja</strong></p>
<p>atas nama cinta yang merasuki jiwaku bersama aliran bening<br />
kupersembahkan kerinduan dalam segelas airmata<br />
menimang hati mendayung rindu walau letihku melangkah<br />
bersamamu kan terbangun gubuk putih<br />
bertiang makna, beratap ketulusan<br />
sama saja</p>
<p>kuhadir menjelma pertanyaan<br />
di bibirmu yang basah, kau sebut abjad abjad karomah<br />
jawabanku takkan dapat kau sentuh ketika cinta tak berserabut kasih<br />
hadirlah, hadirlah dalam setiap doaku<br />
umpan balik hati untuk sebuah tampahan sedihku<br />
kemanakah kau yang tak ingin berlari bersama kakiku yang rapuh<br />
rapuh karena mendekap kelamnya malam<br />
sama saja</p>
<p>satu persatu tasbihku jatuh basahi sajadah<br />
kala langit menyapaku dikotamu<br />
kini diriku menyelipkan belati dipinggulmu yang seksi<br />
bukanlah ancaman ataupun serangan<br />
jadikanlah senjata menghujamku atas nama cinta<br />
aku rela mati menhharap abadi dalam ingatanmu<br />
sama saja</p>
<p>hari ini, pun esok<br />
mereka, pun kalian<br />
sama saja takkan bisa mengeringkan airmata yang basahi biru bahkan merahnya hatiku<br />
seperti aku yang takkan bisa lepas dari kecintaan terhadap kesedihan<br />
coba saja menghalangi laju sejarahku menyulam bahagia<br />
kaukan menangis tanpa airmata saat bahagia tanpa tunjukNya</p>
<p>Sallugatta Sul-Bar,28/05/2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/lima-puisi-romantis-dari-fb-edisi-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUSEUM SEBAGAI SALAH SATU SARANA UNTUK MENGEMBANGKAN MUATAN LOKAL</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/museum-sebagai-salah-satu-sarana-untuk-mengembangkan-muatan-lokal/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/museum-sebagai-salah-satu-sarana-untuk-mengembangkan-muatan-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 12:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/museum-sebagai-salah-satu-sarana-untuk-mengembangkan-muatan-lokal/</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;78';
			
		Oleh : Drs. Sirajul Huda HM
Pada sebuah seminar ada salah seorang peserta yang juga adalah seorang guru pada sekolah menengah mengemukakan bahwa pada saat ini banyak para murid sekolah yang sudah tidak peduli lagi terhadap budayanya sendiri. Mereka lebih mengenal siapa itu tokoh Peterpan, Raja, atau Padi dari pada siapa Anang Ardiansyah, Ajim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_78' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|78';
			</script>
		<p>Oleh : Drs. Sirajul Huda HM<br />
Pada sebuah seminar ada salah seorang peserta yang juga adalah seorang guru pada sekolah menengah mengemukakan bahwa pada saat ini banyak para murid sekolah yang sudah tidak peduli lagi terhadap budayanya sendiri. Mereka lebih mengenal siapa itu tokoh Peterpan, Raja, atau Padi dari pada siapa Anang Ardiansyah, Ajim Ariyadi,Syamsiar Seman, Bachtiar Sanderta, Ajamudin Tifani, Hijaz Yamani, Justan Aziddin, Rustam AA, Arsyad Indradi dan banyak seniman daerah Kalsel lainnya. Padahal mereka-mereka inilah sebenarnya yang menjadi tokoh musik, teater dan sasterawan di banua Banjar ini. Jauh sebelum lahirnya Ariel. Ian Kasela dan yang lainnya, Anang Ardiansyah sudah berjaya mempopulerkan lagu-lagu Banjar lewat Orkes Rindang Banua dan Anataria. Ketika Rendra masih menjadi crew panggung Ajim Ariyadi sudah menjadi pemeran utama dalam pergelaran teater di Yogyakarta. Apalagi kalau kita berbicara masalah kesenian tradisional kepada generasi muda. Bagi generasi muda hal semacam itu dianggap kampungan, sudah bukan zamannya lagi. Zaman telah berubah kita harus mengikuti perkembangan zaman. Sementara itu diakui atau tidak memang sedikit sekali para budayawan di daerah yang mau menulis tentang budaya kita. Mereka berpendapat bahwa menulis untuk apa kalau tidak bisa diterbitkan. Walaupun dapat diterbitkan kemana mereka harus menjual, sementara sekolah untuk membeli buku harus dari penerbit yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ironis memang. Disatu sisi sekolah memang memerlukan untuk kepentingan muatan local disisi lain buku-buku untuk menunjang proses belajar mengajar untuk muatan local tidak mudah untuk didapatkan.<br />
Kalau sudah demikian apa yang dapat dibanggakan oleh banua kita ini. Hutan sudah gundul, sungai sudah keruh dan kian punah oleh karena pembangunan fisik yang tidak terkendali. Batubara habis dikeruk untuk melayani syahwat kapitalisme, sedangkan budayanya tercerabut dan tercabik-cabik dari pola pikir, perasaan dan pola laku sebagian besar dari pendukungnya. Berbeda dengan masyarakat Jepang yang walaupun ternasuk dalam Negara yang modern namun sikap dan pandangannya terhadap budaya tradisional tidaklah luntur.<br />
Mereka sadar bahwa sejarah perjuangan hidup bangsanya mewarisi kultur unggul kepada generasi mudanya. Lewat kebudayaan inilah bangsa Jepang bisa jadi jaya. Kabuki yang telah berumur ratusan tahun masih digelar dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Upacara minum teh masih terpelihara hingga saat ini. Masyarakat Jepang banyak yang bepergian keluar negeri dan ini memang dianjurkan oleh pemerintahnya. Tapi apa yang dibawa mereka kembali kenegaranya. Tidak lain adalah produk-produk mereka sendiri.<br />
Bagaimana dengan bangsa kita atau kita persempit dengan masyarakat di daerah kita. Karena banyak termakan iklan di televisi khususnya anak-anak muda, mereka merasa tidak lagi keren kalau tidak memakai levis atau merasa tidak gaul kalau tidak biasa memakan pizza.<br />
Untuk mengenalkan kembali budaya, khususnya budaya daerah salah satu anternatifnya adalah “museum”. Museum merupakan jendela budaya daerah di mana museum tersebut berada. Setiap orang asing yang datang mereka pasti mempertanyakan dimana museum, karena dengan melihat museum mereka akan lebih mengenal budaya daerah setempat.<br />
APA ITU MUSEUM.<br />
Museum adalah sebuah lembaga permanent non profit dalam pelayanan masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk public (umum), dimana pengadaan, konservasi, penelitian, penyajian (koleksi), hanya untuk study, pendidikan dan kesenangan (rekreasi) dan mengenai bukti material manusia dan lingkungannya.<br />
Selain itu museum merupakan suatu tempat penting bagi pelestarian benda budaya dan alam yang dijadikan koleksi, di rawat, di jaga dan disajikan bagi kepentingan umat manusia sekarang dan masa yang akan datang.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/museum-sebagai-salah-satu-sarana-untuk-mengembangkan-muatan-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAWAR DAN PENJARA : MATA RANTAI KENANGAN DARI SEORANG PENYAJAK</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/mawar-dan-penjara-mata-rantai-kenangan-dari-seorang-penyajak/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/mawar-dan-penjara-mata-rantai-kenangan-dari-seorang-penyajak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 11:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/mawar-dan-penjara-mata-rantai-kenangan-dari-seorang-penyajak/</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;77';
			
		Ahyar Anwar
Mengapa Andhika Mappasomba menulis puisi? Apakah Andhika Mappasomba menulis puisi karena senang menulis puisi dan mempunyai waktu senggang yang berlimpah dalam hidupnya? Pertanyaan-Pertanyaan tersebut perlu diajukan untuk memahami sajak-sajak yang dituliskan penyair dalam kumpulan puisinya Mawar dan Penjara ini. Andhika Mappasomba adalah seorang pengelana, tak pernah dapat tinggal dengan tenang pada satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_77' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|77';
			</script>
		<p><strong>Ahyar Anwar</strong></p>
<p>Mengapa Andhika Mappasomba menulis puisi? Apakah Andhika Mappasomba menulis puisi karena senang menulis puisi dan mempunyai waktu senggang yang berlimpah dalam hidupnya? Pertanyaan-Pertanyaan tersebut perlu diajukan untuk memahami sajak-sajak yang dituliskan penyair dalam kumpulan puisinya Mawar dan Penjara ini. Andhika Mappasomba adalah seorang pengelana, tak pernah dapat tinggal dengan tenang pada satu tempat! Dia paham betul arti terpenjara dan terselubungi. Dari sisi inilah kita dapat mulai memahami sajak-sajak yang dituliskannnya dalam satu dekade dan kemudian terkumpul dalam antologi puisi di buku ini.</p>
<p>Antologi Puisi karya Andhika Mappasomba ini adalah sebuah skema metaforik dari perjalanan hidupnya. Penuh dengan gejala-gejala kesadaran interkoneksi, asimilasi, antisipasi, dan antiseden metaforik. Itulah sebabnya, sajak-sajak Andhika Mappasomba lebih tampak sebagai sebuah kesadaran metaforik dari konten kenangannya. Selain dari tradisi otentik penyair dalam mengartikulasi, menanggapi, mempertimbangkan, dan mewakili realitas peristiwa dalam bentuk kata-kata puitik.</p>
<p>Dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba, kita tidak hanya menemukan jalinan kata-kata puitik, tetapi juga begitu banyak peristiwa-peristiwa puitik. Dalam konteks inilah, jawaban dari pertanyaan “mengapa Andhika Mappasomba menulis Puisi?” dapat ditemukan akarnya. Andhika Mappasomba menulis puisi karena dia ingin melakukan rekonsiliasi puitik antara peristiwa yang dianggapnya puitik dengan artikulasi puitik. Penyair ingin merekonsiliasi peristiwa puitik yang tersembunyi dan terpapar dalam realitas yang ditemukannya agar terterjamahkan dalam artikulasi yang juga puitik.</p>
<p>Tentu tidak mudah menemukan peristiwa puitik, setidaknya peristiwa yang dianggap sebagai momen puitik bagi manusia. Pengembaraan dan kepekaan adalah modal fundamental bagi Andhika Mappasomba untuk melacak momen-momen puitik dan menuliskannya juga secara puitik. Pertemuan rekonsiliasi tersebut adalah pertemuan dramatik dalam sajak-sajaknya.</p>
<p>Andhika Mappasomba menjaga dengan serius misteri dari peristiwa puitik yang ditemukannya dan mencoba menyatakannya secara mistik. Maka, ketika kita membaca sajak-sajak Andhika Mappasomba kita akan menemukan alur peristiwa puitik sekaligus sesuatu yang tetap misterius dari peristiwa itu. Kata-kata dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba menemukan kekuatan mistiknya secara romantik. Sajak-sajaknya menceritakan tentang dunia yang unik, bahwa “ada yang terkatakan pada saat harus ada yang tertutupi”. Sama dengan menjelaskan bahwa “ada yang penyair temukan pada saat ada yang harus membuatnya merasa kehilangan”.</p>
<p>Ketika Andhika Mappasomba menuliskan sajak cinta, maka yang akan kita rasakan bahwa sajak itu berasal dari sebuah momen puitik cinta yang dituliskan dengan artikulasi kata cinta yang puitik. Penyair ingin menegaskan bahwa ada cinta pada sebuah peristiwa sekaligus menutupi bahwa ada peristiwa dibalik cinta itu! Disitulah kita dapat dengan mudah menemukan rekonsiliasi kata-kata pada apa yang dijelaskan dan apa yang terselubungi.</p>
<p>Andhika Mappasomba menulis puisi bukan untuk mengatakan bahwa ada peristiwa pada suatu momen tertentu, tetapi lebih karena ada yang harus dijelaskan dari sebuah peristiwa dan tetap harus ada yang disembunyikan dari penjelasan itu. Rekonsiliasi antara ketelanjangan dan ketertutupan itulah yang mendasari Andhika Mappasomba untuk menuliskan sajak-sajaknya.</p>
<p>Lalu mengapa kita harus membaca sajak-sajak Andhika Mappasomba?</p>
<p>Pertanyaan tersebut menjadi penting setelah kita tahu mengapa Andhika Mappasomba menulis puisi. Jawaban dari pertanyaan itu juga akan berimplikasi material untuk menjawab pertanyaan sertaan “mengapa kita harus memiliki buku puisi ini?”. Secara fundamental, kita akan membaca sesuatu jika kita tahu dan mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita jika tidak membacanya. Kita merasa harus makan karena kita tahu bahwa jika kita tidak makan maka hidup kita akan segera berakhir. Maka kita makan bukan karena kita mau makan atau tertarik dengan kelezatan sebuah hidangan, tetapi karena kita sadar dan paham betul arti dan makna kehidupan kita.</p>
<p>Dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba kita akan menemukan bagaimana keterpenjaraan dalam kebersamaan, bukan untuk merasa terpenjara, tetapi untuk menyadarkan kesadaran kita tentang kehidupan yang terpotong, tertutupi, terselubungi oleh peristiwa-peristiwa lain. Kita ini adalah sosok manusia yang terkatakan dan sekaligus terbungkam dan itu adalah sebuah kemungkinan yang tak terelakkan. Cinta, sebagai kata yang sangat banyak ditemukan dalam sajak-sajak Andhika Mappasomba, bukanlah “cinta” yang kebanyakan diharapkan sebagai keindahan. Sajak-sajak dalam Mawar dan penjara justru menunjukkan bahwa cinta adalah sesuatu yang tampak ada sekaligus tersembunyi. Sesuatu yang kita rasakan sekaligus kita curigai.</p>
<p>Jika kita kembali pada pertanyaan, mengapa kita harus membaca sajak-sajak Andhika Mappasomba? Tentu bukan karena itu adalah sebuah kesenangan tetapi karena kita ini, semua yang merasa diri sebagai manusia, adalah matarantai kenangan dari sejarah orang lain yang terkoneksi dalam sejarah diri kita. Kita sedang terpenjara dalam ruang waktu bersama dan harapan-harapan yang sama, tragedi dan kecemasan yang sama. Kita berada dalam sajak yang sama!</p>
<p>Bahwa cinta, kesedihan, penderitaan, kesenangan, kekayaan, keagungan hanyalah sebuah kepastian-kepastian yang bersifat sementara! Begitulah, kita harus tenggelam dalam sajak agar kita tidak terhina dalam kehidupan nihilistik dengan mengelak dari kehidupan normal yang menampakkan bahwa tak sesuatu yang bermasalah dalam hidup ini! Dan sesungguhnya kita selalu berada dalam bayang-bayang kesementaraan! Membaca sajak-sajak dalam Mawar dan Penjara ini, setidaknya membuat kita tidak meliciki diri sendiri dalam menafsirkan kehidupan.<br />
*****<strong>Kiriman : Arif Agus Beege’h</strong><em>*****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/mawar-dan-penjara-mata-rantai-kenangan-dari-seorang-penyajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selintas pelimbaian kata : Buat Nanang Suryadi (Orang Orang Yang Menyimpan Api Dalam Kepalanya )</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/selintas-pelimbaian-kata-buat-nanang-suryadi-orang-orang-yang-menyimpan-api-dalam-kepalanya/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/selintas-pelimbaian-kata-buat-nanang-suryadi-orang-orang-yang-menyimpan-api-dalam-kepalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 16:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;76';
			
		: Arsyad Indradi.
Pernah atau tidakkah aku bertemu dengan Nanang Suryadi secara langsung, seperti dalam pertemuan sastra ? Aku tidak ingat. Tapi sesungguhnya aku merasa akrab dengan  Nanang Suryadi lewat karya sastra seperti, Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Antologi Puisi Penyair Kontemporer Indonesia (Yin-Hua,2007), Tanah Pilih, Bunga Rampai Puisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_76' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|76';
			</script>
		<p>: Arsyad Indradi.</p>
<p>Pernah atau tidakkah aku bertemu dengan Nanang Suryadi secara langsung, seperti dalam pertemuan sastra ? Aku tidak ingat. Tapi sesungguhnya aku merasa akrab dengan  Nanang Suryadi lewat karya sastra seperti, Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Antologi Puisi Penyair Kontemporer Indonesia (Yin-Hua,2007), Tanah Pilih, Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I (Diskebudpar Prov. Jambi, 2008) dan lain-lain. Lebih-lebih lagi mengenal di dunia sastra Cyber, mailing list,  dan situs jejaring sosial facebook. Tak dipungkiri, tidak secara langsung Nanang Suryad salah satu penyair cyber memotivasiku sehingga aku juga bergiat di dalam sastra cyber.<br />
Sungguh aku sangat berbahagia dan kehormatan mendapat kiriman berupa kumpulan puisi via E-mail bertajuk : Orang Orang Yang Menyimpan Api Dalam Kepalanya, sebelum diterbitkan.<br />
Setelah aku baca sampai habis, aku tidak akan mengutak – atik puisi – puisi Nanang Suyadi ini karena begitu sudah panjang lebar  Dimas Arika Mihardja mengurainya dalam sebuah kata pengantar (Melacak Jejak Tanda Dan Diri Dalam Puisi-Puisi Nanang Suryadi Cuma aku dapat mengatakan bahwa walau hanya dengan alat potret yang sederhana seorang photografer mampu memotret dengan cermat dan apik sehingga dapat menghasilkan karya yang bagus, demikianlah Nanang Suryadi.<br />
Selamat atas karya ini, semoga terus mengalir karya-karyanya.Salam sastra.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/selintas-pelimbaian-kata-buat-nanang-suryadi-orang-orang-yang-menyimpan-api-dalam-kepalanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melacak Jejak Tanda Dan Diri Dalam Puisi-Puisi Nanang Suryadi</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/melacak-jejak-tanda-dan-diri-dalam-puisi-puisi-nanang-suryadi/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/melacak-jejak-tanda-dan-diri-dalam-puisi-puisi-nanang-suryadi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 15:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;75';
			
		



Oleh: Dimas Arika Mihardja
….
huruf-huruf berjumpalitan
kata-kata melompat-lompat menari-nari
mendendangkan segala yang ada
muntahkan idea kepada dunia
….
“Membaca Tanda” (dimuat dalam Orang Sendiri Membaca Diri, Swa Indonesia Foundation, 1997 hal. 29, karya Nanang Suryadi)
(1)
Hari ini, Kamis 1 April 2010 saya menerima email berisi segepok puisi karya Nanang Suryadi (NS). Kaget. NS merencanakan menerbitkan tiga kumpulan puisi dan sekaligus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_75' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|75';
			</script>
		<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image6_img" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S6olHzqMdLI/AAAAAAAACns/pRwzO9XlgFk/S240/Dimas+AM.jpg" width="100" height="109"><br />

</div>
<p>Oleh: Dimas Arika Mihardja</p>
<p>….<br />
huruf-huruf berjumpalitan<br />
kata-kata melompat-lompat menari-nari<br />
mendendangkan segala yang ada<br />
muntahkan idea kepada dunia<br />
….<br />
“Membaca Tanda” (dimuat dalam Orang Sendiri Membaca Diri, Swa Indonesia Foundation, 1997 hal. 29, karya Nanang Suryadi)</p>
<p>(1)</p>
<p>Hari ini, Kamis 1 April 2010 saya menerima email berisi segepok puisi karya Nanang Suryadi (NS). Kaget. NS merencanakan menerbitkan tiga kumpulan puisi dan sekaligus meminta saya menulis sepatah pengantar. Edan, begitu reaksi spontan, tiga kumpulan puisi sekaligus! Dan lebih edan lagi setelah membaca puisi-puisinya aku diserbu oleh: huruf-huruf berjumpalitan/ kata-kata melompat-lompat menari-nari/mendendangkan segala yang ada/ muntahkan idea kepada dunia. Setelah belasan tahun aku berpisah dengan NS (terakhir baca puisi bareng tahun 1997 di Malang) dan saat itu NS sedang asyik sebagai “orang sendiri membaca diri”. Kini di tahun 2010 di saat peringatan Hari Sastra sebagai dedikasi Chairil Anwar yang menggigil menghadapi kematiannya di bulan April beberapa tahun yang lalu, NS menyodorkan puisi dan dirinya untuk dibaca oleh orang lain. Emangnya orang lain bisa membaca karya sebagai sosok diri pribadi penyairnya secara akurat?<br />
Benarlah sahabat batinku, Wahyu Prasetya (Semoga Allah menjaga kesehatannya), yang ogah menulis kata pengantar bagi buku NS bertajuk Orang Sendiri Membaca Diri , dengan dalih “Baik buruknya puisi dalam sebuah antologi sudah dipastikan sama-sama akan jatuh ke tangan pembacanya. Dari sinilah puisi diuji. Apakah yang diharapkan dari (hanya) sekedar pengantar?” . Meski begitu, Wahyu Prasetya di dalam “Bukan Pengantar” buku Orang Sendiri Membaca Diri (1997) selanjutnya  menulis seperti ini:<br />
“Untuk menyebut puisi-puisi sahabat ini (maksudnya NS), secara jujur dapat saya katakana, ia masih dikepung oleh pengaruh-pengaruh penyair lain. Terasa masih dominannya tema, ide dan pola konvensional. Di mana kerap terjadi pengulangan kata pada sajak, membuatnya menjadi kedodoran. Sedangkan pencarian lewat bentukan sintaksis baru belum cukup. Kelalaian yang dilakukan Nanang adalah ketika memasuki pola improvisatoris. Dari riset + wawasan literernya ia tidak atau belum menemukan substansi dari apa yang disebut puisi yang baik + indah.<br />
Sesungguhnya, puisi tidak berhenti pada ide, namun merupakan perluasan dalam pengalaman batin. Dengan demikian seorang penyair akan menyadari bahwa ada anak tangga yang nantinya akan ditempuh. Karenanya, puisi-puisi yang baik akan selalu mengalir, mengendap, menumbuhkan perenungan yang kontemplatif”.</p>
<p> Lantas adakah relevansi pernyataan Wahyu Prasetya itu dengan pengantar ini? Tentu saja ada, mengingat karya dan kekaryaan seorang penyair dapat dilacak jejaknya sebagai tanda diri penyairnya. Inilah sebbnya pengantar ini dilabeli “Melacak Jejak Tanda dan Diri Puisi-puisi Nanang Suryadi”.<br />
Sejujurnya, jika mau aman, saya dapat berposisi sebagaimana Wahyu Prasetya yang membebaskan pembaca dalam memaknai puisi. Akan tetapi, ada alas an lain, kenapa saya mau membuat pengantar bagi puisi-puisi NS yang terdapat di dalam buku ini. Alasan pertma dan utama, sebuah pengantar alih-alih dapat sebagai jembatan penghubung antara kompleksitas puisi yang relative sulit dipahami dengan pembaca yang senyatanya amat beragam pula bekal untuk memahami puisi. Bagi pembaca kritis-kreatif semisal para penyair dan kritikus, mungkin sebuah pengantar dipandang terlampau nyinyir. Akan tetapi bagi pembaca pada umumnya, sebuah pengantar bisa sedikit membantunya untuk sedikit berkenalan dengan puisi.<br />
Pengantar ini dibuat sebagai upaya melacak jejak tanda dan diri puisi seorang penyair bernama Nanang Suryadi. Apakah setelah melakukan perjalanan kreatif puluhan tahun Nanang Sunardi mampu meraih apa yang disebut “the ultimate reality”? Kebenaran tertinggi, atau capaian estetis tertinggi dapatkah diraih oleh seorang Nanang Suryadi di dalam proses kepenyairannya? Pertanyaan sederhana inilah yang saya coba terapkan sebagai semacam pendekatan dalam menghadapi puisi-puisi dalam buku ini. </p>
<p>(2)<br />
Teks puisi merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu ada analisis (Hill, 1966:6), yaitu penguraian terhadap bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Analisis itu merupakan salah satu sarana penafsiran atau interpretasi. Sebuah teks puisi itu berisi pemikiran-pemikiran yang rumit, struktur rumit, serta ditulis dengan medium bahasa yang rumit pula. Oleh karena itu, teks puisi perlu ditafsirkan untuk memperjelas artinya. Interpretasi adalah penafsiran karya sastra, dalam arti luasnya adalah penafsiran kepada semua aspek karya sastra (Abrams, 1981:84). Dalam arti sempitnya, interpretasi adalah penjelasan arti bahasa sastra dengan sarana analisis, parafrase, dan komentar, bisaanya terpusat terutama pada kegelapan, ambiguitas, atau bahasa kiasannya. Teks puisi adalah karya seni. Oleh karena itu, harus diterangkan sampai sejauh manakah nilai seni karya teks puisi itu. Analisis dan penafsiran teks puisi harus dihubungkan dengan penilaian (Wellek, 1968:156). Ketiga aktivitas kajian puisi tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan karena ketiganya saling erat hubungan dan saling menentukan. Untuk menganalisis, menafsir, dan menilai teks puisi terdapat empat orientasi pendekatan yang menentukan arah atau corak kajian puisi. Orientasi pendekatan kajian puisi itu berdasarkan keseluruhan situasi karya sastra, yakni: alam (kehidupan), pembaca, penulis, dan karya sastra. Berdasarkan hal itu ada empat orientasi, yaitu orientasi (1) mimetik, (2) pragmatik, (3) ekspresif, dan (4) objektif (Abrams, 1979:6;  1981:36—37).<br />
Pertama, orientasi mimetik memandang teks puisi sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada teks puisi adalah “kebenaran” representasi objek-objek yang digambarkan ataupun yang hendak digambarkan. Kedua, orientasi pragmatik memandang teks puisi sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca (tujuan keindahan, jenis-jenis emosi, ataupun pendidikan). Orientasi ini cenderung menimbang nilai berdasarkan pada berhasilnya mencapai tujuan. Ketiga, orientasi ekspresif memandang puisi sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran, perasaan-perasaannya. Orientasi ini cenderung menimbang puisi dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokan dengan visi atau keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang. Keempat, orientasi objektif memandang teks puisi sebagai sesuatu yang mandiri, otonom, bebas dari pengarang, pembaca, dan dunia sekelilingnya. Orientasi ini cenderung menerangkan teks puisi atas kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling hubungan antarunsur yang membentuk-nya.<br />
Analisis struktural tidak dapat dipisahkan dengan analisis semiotik. Hal ini mengingat bahwa puisi itu merupakan struktur (sistem) tanda-tanda yang bermakna. Tanda-tanda tersebut mempunyai makna sesuai dengan konvensi ketanda-an. Karya sastra merupakan sistem semiotik tingkat kedua yang mempergunakan bahan bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama. Studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem tanda-tanda dan karena itu, menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempu-nyai arti (Preminger, 1974:981). Seperti telah disebutkan bahwa arti bahasa ini ditingkatkan menjadi makna karya sastra oleh konvensi tambahan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan makna karya sastra, haruslah diketahui konvensi-konvensi tambahan yang memungkinkan diproduksinya makna.<br />
Konvensi-konvensi apa yang mendasari timbulnya makna ini dieksplisitkan dalam konkretisasi (Preminger, 1974:981). Konvensi-konvensi sastra ini bermacam-macam. Hal ini sesuai dengan sifat sastra secara umum dan secara khusus sesuai dengan jeniss-jenis sastra. Misalnya dalam puisi liris, di antaranya berupa ciri-ciri formal seperti enjambemen, sajak, metrum, dan ulangan-ulangan bunyi. Semuanya itu merupakan tanda-tanda yang menyumbangkan efek puitis sebagai maknanya. Konvensi puisi liris yang lain di antaranya seperti dikemukakan oleh Teeuw (1984:104—105) berasal dari Culler adalah tiga konvensi dasar: (1) jarak dan deiksis, (2) keseluruhan yang organik, dan (3) tema dan perwujudan.<br />
Pertama, jarak dan deiksis. Puisi itu karya rekaan, maka ucapan itu bukanlah pencatatan tindak ucapan yang empiris, maka kata-kata yang bersifat deiksis tidak menunjuk orang tertentu, tempat dan waktu tertentu, melainkan referensinya berganti-ganti berdasarkan situasinya. Jadi, di sini ada “jarak” antara situasi si aku penulis dengan situasi aku dalam puisinya. Kata-kata deiktik yang memberi jarak itu berupa deiktik. Keruangan (di sini, di situ, di sana, dan sebagainya), deiktik kewaktuan (sekarang, besok, nanti, dan sebagainya), dan deiktik keorangan (saya, engkau, kami, dan sebagainya). Oleh karena itu, pembaca membina dunia sendiri berdasarkan jarak dan deiktik itu.<br />
Kedua, keseluruhan yang organik. Puisi merupakan keseluruhan atau kesaatuan yang organik, antara bagian-bagian dan keseluruhan ada pertautan yang erat. Oleh karena itu, dalam membaca puisi (memberi makna puisi), dicari hubungan antarbagian-bagian itu hingga merupakan jalinan kesatuan yang utuh. Dalam puisi-puisi modern hubungan antara bagiannya seringkali sangat implisit. Namun, karena anggapan bahwa bagian-bagian itu koheren, maka dicari pertautannya sehingga kelihatan bagian-bagian itu tidak terpisahkan, melainkan sangat padu.<br />
Ketiga, tema dan perwujudan. Tema dan perwujudan itu merupakan konvensi makna (significance), konvensi makna yang berhubungan. Puisi diandaikan memiliki kekayaan implisit yang menjadikan pembaca berusaha untuk memahami ataupun mencari hubungan-hubungannya (Teeuw, 1984:196). Peristiwa yang insidental atau individual mau tak mau diberi makna universal dan manusiawi. Sesuatu yang sederhana mendapat nilai yang mulia. Konvensi ketiga ini tak terpisahkan dengan konvensi kedua.<br />
Di samping konvensi di atas, ada juga konvensi puisi yang lain, yang dapat dipergunakan untuk konkretisasi. Konvensi ini hendaknya dicari pembaca puisi berdasarkan keajegan puisi dari dulu hingga sekarang. Misalnya, konvensi puisi yang lain itu seperti dikemukakan oleh Riffaterre (1978:1—2) bahwa puisi itu dari dulu hingga sekarang meskipun selalu berubah oleh konsep estetik dan evolusi selera yang selalu berubah, tetapi ada satu hal yang tinggal tetap, yaitu puisi yang menyatakan satu hal dan berarti yang lain atau puisi itu menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Menurut Riffaterre ketak-langsungan itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning) oleh adanya metafora dan metonimi; (2) penyim-pangan arti (distorsing of meaning) oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; dan (3) penciptaan arti (creating of meaning) oleh adanya bentuk-bentuk visual seperti tipografi, enjambemen, dan persejajaran baris (lihat Pradopo, 1987:209—222).<br />
Tentu saja tiap-tiap genre sastra itu mempunyai konvensi sendiri-sendiri di samping konvensi sastra yang umum. Misalnya saja dalam roman atau cerpen selain ada konvensi kesatuan yang bulat (organic wholes), ada juga konvensi yang berhubungan dengan konvensi cerita seperti konven-si alur, penokohan, latar, pusat pengisahan, dan lain-lainnya. Dalam analisis untuk memberi maknanya, maka konvensi-konvensi yang berhubungan dengan itu dieksplisitkan.<br />
Puisi tidak lahir dalam situasi kosong, tidak lepas dari sejarah sastra. Artinya, sebelum puisi dicipta, sudah ada puisi yang mendahuluinya. Penyair tidak begitu saja mencipta, melainkan ia menerapkan konvensi-konvensi yang sudah ada. Di samping itu, ia juga berusaha menentang atau menyimpangi konvensi yang sudah ada. Karya sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan revolusi, antara yang lama dengan yang baru (Teeuw, 1980:12). Oleh karena itu, untuk memberi makna karya sastra, maka prinsip kesejarahan itu harus diperhatikan. Sebuah karya sastra baru mempunyai makna penuh dalam hubungan-nya atau pertentangannya dengan karya sastra lain. Ini merupakan prinsip intertekstualitas yang ditekankan oleh Riffaterre (Teeuw, 1983:65).<br />
Seringkali puisi berdasar atau berlatar pada karya puisi yang lain, baik karena menentang maupun karena meneruskan karya-karya yang menjadi latar itu. Karya sastra yang menjadi dasar atau latar penciptaan karya sastra yang kemudian itu oleh Riffaterre disebut hipogram. Sebuah karya sastra akan dapat diberi makna secara hakiki dalam kontrasnya dengan hipogramnya (Teeuw, 1983:66). Dalam puisi, misalnya, tampak beberapa puisi Chairil Anwar berhipogram puisi-puisi Amir Hamzah. Di situ puisi-puisi Chairil Anwar menen-tang pikiran-pikiran maupun konsep estetik Pujangga Baru yang tersirat dalam puisi-puisi Amir Hamzah. Puisi-puisi gubahan Nanang Suryadi berhipogram dengan puisi-puisi Afrizal Malna, puisi-puisi Goenawan Mohamad, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardojo, dan para penyair lain yang mendahului Nanang Suryadi. Puisi dicipta oleh seorang penyair. Ia tidak dapat terlepas dari masyarakat dan budayanya. Seringkali penyair sengaja menonjolkan kekayaan budaya masyarakat, suku bangsa, atau bangsanya. Hal ini tampak lebih-lebih dalam karya sastra Indonesia sejak tahun 1970 meskipun sebelumnya latar sosial budaya ini juga tampak dalam karya sastra Indonesia. Oleh karena itu, untuk memahami dan memberi makna kepada karya sastra, latar sosial budaya ini harus diperhatikan.<br />
Ketika pembaca hendak memberi makna pada Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG), misalnya, maka haruslah diketahui konsep hidup orang Jawa dan kebudayaan Jawa. Tanpa semua itu, Pengakuan Pariyem tidak dapat dipahami dan tidak diberi makna  dengan sepenuhnya. Ketika pengkaji akan memberi makna puisi-puisi Subagio Sastrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Linus Suryadi AG, yang berlatar belakang budaya wayang, maka tidak boleh tidak latar belakang wayang yang bersangkutan harus diketahui atau diterangkan dengan jelas mengenai hubungan antartokoh, peristiwa-peristiwa, dan konteks ceritanya.<br />
Puisi tidak terlepas dari penyairnya. Penyair memberikan intensinya dalam karyanya. Puisi merupakan luapan dan penjelmaan perasaan, pikiran, dan pengalaman penyairnya. Oleh karena itu, faktor penyair tidak boleh diabaikan meskipun tidak harus dimutlakkan. Hal ini disebabkan oleh hal bahwa belum tentu intensi penyair itu dapat dijelmakan dalam puisi secara sempurna sebab puisi bermedia bahasa yang mempunyai sifat sendiri yang tidak begitu saja “tunduk” kepada kemauan penyair. Di samping itu, juga masalah-masalah teknik penulisan seringkali menjadi penghalang bagi penyair untuk menyampaikan intensinya. Hal ini dapat dilacak jejaknya pada teknik penulisan Nanang Suryadi yang selalu bergeser dari tahun ke tahun, yang pada akhirnya Ia merambah gaya Afrizalian dalam penulisan puisi dengan memodifikasi menghilangkan tanda baca dan penulisan huruf besar, serta menggantikan personifikasi benda-benda dengan aku lirik yang terkait dengan subjek (manusia).<br />
Meskipun demikian, faktor penyair tidak dapat diabaikan. Kemungkinan besar, keterangan-keterangan penyair mengenai karyanya, baik dalam hal ekspresi ataupun pikiran yang dikemukakan, sangatlah perlu untuk memahami karyanya tersebut. Lebih-lebih bila karyanya menunjukkan adanya teknik dan pemikiran baru yang belum dikenal oleh masyarakat sastra. Di samping itu, pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan pengarang tentang seni sastra pada umumnya sangat bermanfaat untuk mempermudah pengungkapan makna karya sastranya. Meskipun menurut teori objektif (struktural) bahwa bila penyair menerangkan karyanya sendiri, maka sesungguhnya ia berlaku sebagai pembaca terhadap karyanya sendiri, akan tetapi, pastilah tafsiran-tafsiran terhadap karyanya sendiri itu akan “lebih” menunjukkan ketepatan daripada tafsiran pembaca yang lain, yang “hanya” berdasarkan teks yang tertulis. Namun, kete-rangan penulis atas karyanya sendiri itu memang tidak harus dimutlakkan sebab karyanya sebagai sistem tanda memang mempunyai konvensi sendiri yang objektif berdasarkan kompetensi sastra yang dilaksanakan.<br />
Dikemukakan Jauss (1974:12—13) bahwa apresiasi pembaca pertama sebuah karya sastra akan dilanjutkan dan diperkaya melalui tanggapan-tanggapan yang lebih lanjut dari generasi ke generasi. Tiap pembaca itu memiliki horizon harapan sendiri. Horizon harapan itu menurut Segers (1978:41) ditentukan oleh tiga kriteria, pertama, ditentukan oleh norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang dibaca oleh pembaca, kedua, ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya, dan ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk memahami, baik dalam horizon “sempit” dari harapan-harapan sastra maupun horizon “luas” dari pengetahuannya tentang kehidupan. Jadi, bila pembaca itu mempunyai pengetahuan yang banyak tentang kehidupan, pastilah konkretisasinya akan “sempurna”, dapat mengisi “tempat-tempat terbuka” dengan baik. Terkait dengan ini, tahun 1997 penyair Nanang Suryadi menulis seperti ini:<br />
“Ketika aku mengumpulkan puisi-puisi dalam buku ini, aku hanya ingin berbagi cerita padamu. Seperti ketika Abah dulu mendongeng, sebelum kami—anak-anaknya—tertidur oleh usapan tangannya di punggung, aku pun ingin bercerita tentang sesuatu atau berbagai hal. Yang mungkin itu membuatmu muak, mungkin itu membuatmu terhibur, mungkin itu akan membuatmu tertawa, mungkin itu akan membuatmu menangis, mungkin…..Ya, mungkin hanya itu yang sementara ini bisa aku rumuskan: aku hanya ingin bercerita padamu. Tentang segala hal yang aku rasakan selama ini, tentang segala halyang menjadi ideaku, tentang segala hal yang kusaksikan, tentang segala kecintaan….”</p>
<p>Dalam teori estetika resepsi yang menjadi perhatian utama adalah pembaca karya sastra di antara jalinan segitiga pengarang, karya sastra, dan masyarakat pembaca (Jauss, 1974:12). Hal itu disebabkan bahwa kehidupan historis sebuah karya sastra tidak terpikirkan tanpa partisipasi para pembacanya. Metode estetika resepsi mendasarkan diri pada teori bahwa karya sastra itu sejak terbitnya selalu mendapat resepssi atau tanggapan para pembacanya. Menurut Jauss (1974:12—13) apresiasi pembaca pertama terhadap sebuah karya sastra akan dilanjutkan dan diperkaya melalui tanggapan-tanggapan yang lebih lanjut dari generasi ke generasi. Dengan cara ini makna historis karya sastra akan ditentukan dan nilai estetiknya terungkap. Sebuah karya sastra bukanlah objek yang berdiri sendiri dan yang memberikan wajah yang sama masing-masing pembaca di setiap periode.<br />
Dalam metode estetika resepsi ini diteliti tanggapan-tanggapan setiap periode, yaitu tanggapan-tanggapan sebuah karya sastra oleh pembacanya. Pembaca dalam hubungan ini yang dimaksud adalah pembaca yang cakap, bukan awam, yaitu para kritikus sastra, ahli sejarah, dan ahli estetika. Dengan demikian, penelitian dengan metode estetika resepsi, seperti dikemukakan oleh Segers (1978: 49), ialah (1) merekonstruksi bermacam-macam konkretisasi sebuah karya sastra dalam masa sejarahnya, dan (2) meneliti hubungan di antara konkretisasi-konkretisasi itu di satu pihak dan di lain pihak meneliti hubungan di antara karya sastra dengan konteks historis yang memiliki konkretisasi-konkretisasi.</p>
<p>(3)<br />
Sejarah perpuisian mencatat, puisi Indonesia modern yang pertama ditulis adalah puisi berjudul “Tanah Air” karya Mohamad Yamin, dimuat dalam Jong Sumatera No. 4, Tahun III, April 1920. Karya Mohamad Yamin itu sesungguhnya merupakan respon terhadap karya sebelumnya (Riffaterre via Teeuw, 1983:65), baik berupa tanggapan baru maupun penyambutan yang bersifat penerusan konvensi sebelumnya, tetapi sekaligus juga sering menyimpangi konvensi yang telah ada atau pun norma puisi sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa puisi tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11). Demikian juga puisi itu merupakan tegangan antara konvensi dan inovasi (Teeuw, 1983:4, 11).<br />
Sebelum Mohamad Yamin menulis “Tanah Air” itu, di Indonesia sudah ada sastra Melayu lama, khususnya puisi Melayu lama yang ragam utamanya berupa pantun dan syair yang merupakan puisi tradisional atau konvensional. Mohamad Yamin merespon pantun dan syair ini, menyimpangi norma-norma yang tradisional atau konvensional. Akan tetapi, ia juga meneruskan sebagian konvensi puisi lama dalam puisi-puisinya. Kemudian, jejak langkah Mohamad Yamin ini diikuti oleh penyair-penyair sezamannya. Akhirnya kelompok penyair sezaman Mohamad Yamin dengan karya-karyanya itu membentuk sebuah angkatan sastra yang dikenal dengan nama Angkatan Pujangga Baru. Nantinya puisi Pujangga Baru itu akan direspon oleh penyair-penyair periode sesudahnya dengan karya-karya puisinya.<br />
Persambungan sejarah puisi dari periode ke periode selanjutnya menunjukkan ciri-ciri tertentu sesuai dengan periodenya. Hal ini sesuai dengan pengertian sejarah sastra sendiri, yaitu studi sastra yang membicarakan perkembangan sastra dari sejak lahirnya sampai pada perkembangannya yang mutakhir (Wellek, 1968:25; Pradopo, 1988:12).  Sejarah sastra tidak lepas dari masalah periodisasi (pembabakan waktu) untuk menunjukkan perkembangan sastra dari periode ke periode. Periode adalah bagian waktu yang dikuasai oleh norma-norma sastra dan konvensi-konvensi sastra, yang munculnya, meluasnya, variasi, integrasi, dan lenyapnya dapat dirunut (Wellek, 1968:265).<br />
Pada dekade 2000-an, di mana Nanang Suryadi masuk di dalamnya, menunjukkan pergeseran wawasan estetik yang ditandai oleh berubahnya struktur larik dan bait. Larik dan bait dalam puisi Chairil Anwar terikat dalam kesatuan sintaksis yang memolakan suatu bait. Meskipun baitnya hanya berisi satu larik, setiap baitnya merupakan satu kesatuan korespondensi yang selesai. Larik pada puisi-puisi Sutardji calzoum Bachri merupakan kumpulan enjambemen yang menghubungkan antarsintaksis—bahkan kadang antarkata—yang kemudian terhimpun di dalam bait yang—hampir selalu—tidak selesai. Selesaian bait bisanya diakhiri oleh suatu kejutan yang memberi sugesti tertentu, baik sugesti magis maupun sugesti psikologis yang berujung pada pertanyaan, berita, harapan, atau kengerian. Larik pada Afrizal Malna bersifat netral, karena puisi Afrizal sebenarnya tersusun dalam bait yang sesungguhnya nirbait. Puisi tidak pernah punya selesaian karena sajak dapat dibalik secara sungsang dan baitnya dibalik ke atas atau ke bawah, maknanya tidak akan berubah. Larik sama fungsinya dan kedudukannya dengan bait, karena larik itu sendiri merupakan bait. Dengan revolusi tipografi semacam ini, Afrizal mengubah arus dasar plot pikiran dan tema yang mengalir dari awal larik hingga akhir bait ke arah komunikasi kata per kata di dalam sajak.<br />
Revolusi tipografi ini membawa pembaruan pada kedudukan kata di dalam sajak. Chairil Anwar menempatkan kata yang komunikatif dari perasan sinar wahyu, sebagaimana yang dimaksudkan William Blake (17757—1827) tentang logos. Kata jadi terang bercahaya dan mumpuni dalam kedudukannya yang ningratis dan tanpa substitusi. Pribadi kata begitu kuat dan angker, bagaikan kharisma pahlawan. Sutardji menem-patkan kata dalam alegori puitik, di mana kata difungsikan dalam wujudnya yang asli tanpa beban pemaknaan simbolik atau metaforis. Kata tidak dinobatkan menjadi agung, tetapi muncul dalam suasana dan situasi purba. Kata pada Afrizal Malna dipilih dari lingkungan sehari-hari sehingga tercipta habitat keseharian yang memunculkan sifat kerakyatjelataan dari kata itu sendiri. Kata-kata itu tampil dengan cerdas dan berwibawa, mencerminkan kecanggih-an sebuah dunia yang benar-benar modern. Modernisasi datang bukan dari pose luar dengan aksesori vocabuler dan hiperbolis, tetapi justru karena kesahajaannya mengangkat dirinya sendiri ke dalam kelas kualitas yang prima, tanpa dipercanggih, tetapi menjadi canggih secara alami.<br />
Pembaruan terhadap pilihan dan kedudukan kata membawa pergeseran pada penempatan lirikus dari “aku lirik” kepada “benda-benda”. Afrizal Malna menggeser peran aku lirik kepada benda-benda yang menunjukkan bahwa muncul makna penting dari estetik aku lirik ke estetik benda-benda yang dipertaruhkan sederajat dengan kedudukan manusia. Pergeseran itu terasa membawa maknawi utuh seperti tampak dari beberapa baris yang mencerminkan kedudukan benda-benda sebagaimana telah didedahkan oleh Korrie Layun Rampan dalam Angkatan 2000-nya: “lalu bapak menyusun dirinya kembali, dari body lotion, styling foam, dan pil strong of night: Indonesia raya! Sumpah Pemuda! Pembangunan! Kenapa aku membangun kamar mandi seperti itu juga, siih&#8230;.” (“Kisah Cinta Tak Bersalah”). “Ada anak-anak menari, menyanyi, dalam novel yang lain. Mereka memakai tubuh ibunya sendiri. Dan menemukan Sitti dalam tradisi yang lain, antara masa lalu yang melepaskan sepatunya dalam sekolah:// Sitti, ilmu pengetahuan itu, seperti novel penuh batu, dia yang tak ada, dan semangka” (“Sitti Nurbaya Berlari-lari”).<br />
Pemilihan Afrizal Malna kepada materi benda, menurut catatan Korrie Layun Rampan (2000) memperlihatkan perbedaan yang mencolok dengan individualisme Chairil Anwar dan sifat esoterik Sutardji Calzoum Bachri. Biografi aku lirik pada Chairil mencerminkan pilihannya pada pemilahan terhadap habitat penyair yang menolak kehadiran habitat lainnya. Sutardji memang memasukkan benda-benda dan memfungsikan benda dalam katalogus puisi, tetapi karena sifat katanya yang bertujuan mendukung misteri atau mensugesti sifat-sifat arkhair, kata-kata itu berbeda fungsinya dalam estetik massal. Afrizal Malna dan manusia yang dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa tertentu dari interaksi massal, seperti diucapkan-nya sebagai kredo dalam Arsitektur Hujan, “Hiduplah orang-orang Lain Bersama Kita”. Dari kisan analogis “Pengantar Bersama Seorang dan Massa,” di buku itu Afrizal menunjukkan hubungan timbal balik antara “seseorang” dan “massa” dalam hubungan cerita sebuah kalung, “Saat mengenakan kalung itu, saya seperti mengenakan diri orang-orang lain pada leher saya. Saya bayangkan: Apakah melakukan sikat gigi setiap pagi dan sore, juga telah mengubah banyak hal pada tingkah laku saya. Ada identitas lain yang melapisi benda-benda di sekitar saya; seperti puisi lahir memperlihatkan adanya ikatan dan oposisi lain kemudian menyusun hubungan-hubungannya sendiri dalam ikatan ini. Walau masih sempat saya dengar di radio, berita kematian orang yang tidak saya kenal. Saya tahu kemudian saya telah berpikir bersama berbagai kejadian yang berlangsung di sekitar saya&#8230;. Dalam hubungan komunikasi seperti itu, ketika ada yang percaya bahwa dia adalah seseorang, saya segera melarikan diri ke tengah massa. Karena pada massa, saya bisa memenuhi identitas untuk tidak percaya saya hanya sebagai seseorang.”<br />
Estetik massal ini merupakan penemuan Afrizal yang unik dalam sejarah sastra Indonesia, menunjukkan bahwa sumber keindahan itu memang berada di tengah massa. Karena itu, penyair ini menyatakan bahwa hal penting dari penciptaannya adalah menelusuri biografi teks, bukan biografi “aku lirik”. Biografi teks itu memperlihatkan perlainan dalam komunikasi verbal seperti yang dilakukan Chairil maupun Sutardji, karena Chairil dan Sutardji memilih menggunakan medium tradisional dalam sapaan wicara antarsubjek, meskipun terlepas dari imbangan manusiawi, yaitu menghidupkan benda-benda sebagai persona yang melahirkan sifat antropomorfisme.<br />
Perubahan struktur tipografis membawa pembaruan pada komposisi yang dibangun dalam tanda-tanda dan penanda kompositoris. Estetika komposisi yang dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan, aku lirik, dan pikiran diaransemen didalam perfeksi yang sejajar dan objektif. Afrizal menyajikan bahan dan bentuk yang orisinal dalam tataran estetika Angkatan 2000 pada penciptaan aransemental, setelah ia berjuang melewati “Penyair Anwar” dan “Matahari Bachri” dalam Abad yang Berlari (1984) untuk sampai pada puisi-puisi instalatif yang kompositoris sebagaimana ditunjukkan oleh indeks dan sebagian puisi dalam Arsitektur Hujan (1995) seperti dua fragmen puisi berikut ini. “Harga cabe naik lagi, 1000 rupiah yang lalu. Berita-berita dari pemerintah jadi seragam penuh ancaman, bersama inflasi, dan tumpukan kredit bank. Siapa bermain di situ, dingin dan basah, penuh nyonya-nyonya mencukur kakinya di salon. Bicaranya seperti jam-jam tidurku yang berbusa&#8230;. (“Kesibukan Membakar Sampah”), “Jam 7 pagi aku antar tubuhku dalam kristal-kristal vitamin C, lembar-lembar fotocopy: Tolong cumi kering setengah kilo; Minyak goreng satu botol; bawang putih &#8230;.Dan tidur yang tersisa pada rambut seorang ibu, tiba-tiba melempar selimut: siapa yang telah menyusun pagi jadi seperti ini? Suaranya, seperti siaran berita yang menggebrak meja” (“Orang-orang Jam 7 Pagi”).<br />
Perkayaan angkatan ini ditandai oleh meluas dan mendalamnya materi yang digarap para penyair, sehinga melahirkan wawasan estetik baru atau memperluas wawasan estetik yang telah ada, sehingga memperlihatkan pendalaman. Perkembangan yang menarik dari angkatan ini tampak dari perluasan dan pelebatan wawasan estetik Afrizalian. Pada puisi-puisi nirbait, pelebaran itu mencapai esensinyaa sebagai buah estetik baru pada Dorothea Rosa Herliany. Dengan pola terusan atau sungsang, puisi-puisi penyair ini mencapai kematangan dan klasisitas lewat bentukan nirbait yang konsisten, bahkan kadang tanpa enjambemen, sehingga mencirikan sebuah penemuan yang mempribadi. Dengan model kaleidoskop yang gerai puisi-puisi nirbait penyair ini meninggalkan benda-benda untuk memasuki peristiwa-peristiwa yang rawan, “kota pun terbakar gairah pertempuran, hutan-hitan/yang kabur, dan tari-tarian purba/cinta masih bersarang dalam jiwa yang meronta/dalam pintu luka yang menganga. Perihnya terangkum/dalam vas bunga, di atas meja taman/lalu cemas apa lagi yang akan datang&#8230;.” (“Konser Matahari”).<br />
Lebih lanjut Korrie Layun Rampan menyatakan, pergeseran estetik aku lirik kepada benda-benda diperluas oleh Agus R. Sarjono dengan menempatkan benda sebagai persona yang mandiri di dalam pemanusiaannya sebagai pribadi yang memiliki eksistensi sebagai manusia. Jika pada Afrizal Malna benda-benda berada pada posisi komunikan yang disuruh oleh komunikator untuk berbicara, maka pada puisi-puisi Agus benda-benda aitu menduduki posisi merdeka dan menyandang sifat antropomorfisme, sehingga masing-masing benda mampu hidup dan berkpmunikasi seperti layaknya manusia. Dalam sejumlah puisinya, misalnya dalam “Rendezvous” (bagian dari Kenduri Air Mata) memperlihatkan pengembangan estetik pemanusiaan benda-benda. “Kamu cantik, ucap padang golf pada bunga/rumput yang berayun diasuh angin. Bunga rumput/itu pun tertunduk. Dikenangkannya padian/sayur-mayur dan lenguh kerbau yang bergegas/pergi sebelum tiba pagi&#8230;.” (“Rendezvous”), “Maukah kaudengar kisahku, rengek Boldozer/ sambil mencekal jalur-jalur pematang dan jemari sungai. Tidak/meskipun kami ingin. Kami sibuk. Lihatlah/ traktor-traktor dan surat keputusan dan pidato pengarahan/ telah tiba. Kami mesti berangkat sebelum terlambat/dan air mata menjadi jerat&#8230;.” (“Pada Suatu Hari”).</p>
<p>Perkuatan dari pengucapan-pengucapan yang cerdas dan cerkas menunjukkan persambungan estetik referensial yang mempertaruhkan pengungkapan budaya lokal dan mancanegara untuk mencapai kepribadian keakuan puisi-puisi yang mandiri. Konvensi Chairil Anwar yang diperluas Goenawan Mohamad dan kemudian berkembang dari proses pembelajaran restoratif yang dinamik menghasilkan wacana-wacana kesemestaan yang membebaskan Barat dan Timur dari batas-batas geografis dan dunia pemikiran. Para penyair angkatan ini tanpa canggung mempertemukan berbagai unsur vital dari berbagai realitas yang menjadi trend pemikiran abad manusia zaman kita dan menyatakannya sambil dengan pengucapan estetik yang mencirikan penemuan zamannya. Dalam puisi-puisi itu, aku lirik bergeser menjadi aku massal yang mencerminkan peniadaan keakuan, sehingga puisi menjadi netral dalam pemberian tanda dan menyikapi penandaan dari lirik. Sementara keakuan yang masih dipertahankan mencerminkan peleburan dari elan vital individu kepada elan vital massa, benda, atau suatu idea. Puisi-puisi Arif B. Prasetyo, Cecep Syamsul Hari, Remmy Novaris D.M., Beni R. Budiman, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Dimas Arika Mihardja, Nenden Lilis A., Omi Intan naomi, Medy Lukito, Wowok Hesti Prabowo, Sitok Srengenge, Kusprihyanto Namma, Aslan A. Abidin, dan lain-lain menunjukkan sifat-sifat untuk pengucapan estetik yang demikian. Pergeseran dari aku lirik ke pengucapan epika memperlihatkan kuatnya arus kisah dari sifat lirik murni. Sajak-sajak Joko Pinurbo dan H.U. Mardiluhung menunjukkan penemuan estetika yang demikian, di mana tokoh dan peristiwa saling memperkuat dan memperebutkan posisi di dalam dramatisasi tragedi.<br />
Pergeseran atavisme kepada pengucapan esoterik yang mencirikan warna lokal dieksploitasi secara menarik dengan inovasi baru sehingga mampu meniadakan sifat keasingan. Dengan membangun imaji-imaji tempat dan imaji-imaji budaya, serta berbagai peristiwa sakral, puisi-puisi warna lokal ini ke luar sebagai bagian estetik angkatan ini yang diucapkan dengan segar oleh Pieters Sombowadile, Iverdison Tinungki, Nurdin Supi, Putu Fajar Arcana, Tomy Tamara, I Wayan Arthawa, Tan Lioe Ie, dan lain-lain. Dalam puisi-puisi Oka Rusmini, warna lokal mencapai perluasan karena dibangun dari akar-akar tradisi yang mencerminkan kedudukan manusia di tengah alam dan budaya tempatan. Dunia esoterik tidak hadir dalam keterasingan, tetapi hadir secara meriah dan tajam karena ia tidak hanya menyajikan segi-segi eksotisme, tetapi justru menngasah kritik sosial yang mencerminkan kepedulian terhadap dunia nyata. Ia memperlihatkan perkembalian estetika Chairil Anwar yang membangun subjek atavisme di dalam rangkaian warna aku lirik, dengan memberi tambahan pada penting dan dilematisnya kedudukan wanita berkasta tinggi di tengah masyarakat yang sepenuhnya modern.<br />
Ikhtisar sejarah puisi Indonesia modern yang telah dikemukakan, setidak tidaknya menunjukkan hal penting. Pertama, estetika puisi Indonesia modern selalu mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Kedua, dalam dinamika perkembangan estetika puisi Indonesia modern dari periode awal hingga perkembangan yang mutakhir tercatat tiga tonggak prestasi yang pernah digapai oleh penyair, yakni estetika Chairil Anwar, Sutardji calzoum Bachri, dan Afrizal malna beserta rombongan penyair lain yang secara umum dapat dikelompokkan ke dalam estetika mereka bertiga—tentu dengan keunikan, pergeseran, dan perkembangannya sendiri. Ketiga, sebagai sebuah ikhtisar, sejarah puisi Indonesia modern masih perlu terus digali oleh para mahasiswa sebagai bahan studi yang tidak pernah habis-habisnya. Keempat, dari ikhtisar ini mahasiswa dapat tergugah untuk lebih jauh menjelajah dengan cara mencari antologi puisi dari periode ke periode berikutnya, membaca dengan intensif, dan menemukan kebenaran sejarah dengan kerja keras dan keringat sendiri.<br />
Demikianlah, lacak jejak tanda dan diri  Nanang Suryadi dalam puisi-puisinya. Puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini, ternyata sebagai perpanjangan tangan konsepsi estetis perpuisian Indonesia. Makna perpanjangan di sini ialah bahwa Nanang Suryadi intens masuk pada wilayah yang telah pernah digarap penyair sebelumnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/melacak-jejak-tanda-dan-diri-dalam-puisi-puisi-nanang-suryadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT SASTRA DARI DIAH HADANING: MENEBAR &#8220;VIRUS JINGGA&#8221; LEWAT SURAT SASTRA</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/surat-sastra-dari-diah-hadaning-menebar-virus-jingga-lewat-surat-sastra/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/surat-sastra-dari-diah-hadaning-menebar-virus-jingga-lewat-surat-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 17:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;74';
			
		Bertitimangsa: Pada suatu musim pancaroba. 
Ketika negeri dilanda bencana-bencana, ketika ontran-ontran dan gara-gara tak kunjung henti, ketika perjuangan sisakan erang dan purnama masih sisakan tembang, aku tak henti membaca perjalanan diri dalam langkah selalu mencari. Aku ingin kau wakili mereka (mitra sastrawan nusantara) bersaksi dalam nyata dan mimpi: bukankah dunia kepenyairan merupakan gelar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_74' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|74';
			</script>
		<p>Bertitimangsa: Pada suatu musim pancaroba. </p>
<p>Ketika negeri dilanda bencana-bencana, ketika ontran-ontran dan gara-gara tak kunjung henti, ketika perjuangan sisakan erang dan purnama masih sisakan tembang, aku tak henti membaca perjalanan diri dalam langkah selalu mencari. Aku ingin kau wakili mereka (mitra sastrawan nusantara) bersaksi dalam nyata dan mimpi: bukankah dunia kepenyairan merupakan gelar jagad jiwa antara nyata dan fatamorgana, yang membuat orang selalu masih punya harapan agar tetap bisa menyintai hidup dan kehidupan?</p>
<p>Mitraku, masihkah ingat kata mutiara itu: Per aspera ad astra? Melewati jalan berbatu dan berlubang baru bisa mencapai bintang. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Pokoknya, kerja keras dulu, baru meraih hasil. Cocok dengan perjuangan dalam dunia sastra, bukan? Jadi, tak ada kamus untuk kata ‘karbitan’, potong kompas, neka-neka agar diamati khusus. Semuanya lantas menjadi ‘sekedar’. Kalau sudah begitu, maka jagad kepenyairan ini dihuni oleh jiwa-jiwa ‘kepompong’. Yang tak mungkin mencapai AWARD. Lebih milih ramai-ramai cipta ‘booming sewaktu’. Kuharap mitra-mitraku masih setia pada satu kata: kejujuran. Kata yang tak pernah berubah, makna yang kita sepakati di benua PURBA penuh rimba kata-kata yang bisa dijungkirbalikkan oleh mereka dengan beliung dari ‘taring betara Kala’, itu Sang Guru Putra pemburu manusia penyandang sukerta.</p>
<p>Dimas, masihkah ingatanmu setajam silet waktu? Di tahun 1995 di Bengkulu, sebenarnya sudah lama aku ingin kita saling bincang kreatif penuh nuansa asah-asih-asuh. Sayang berita duka menghelaku pulang ke Pantura dan sempat kau dan Leak mengantarku ke pool bus malam pulang ke Jawa. Keinginan bincang kreatif yang tertunda sekian lama, 12 tahun, 624 kali purnama, tercicil sekuku kelingking ketika kita mengiring malam dari Plaza TIM sampai pindah tempat di lobi Hotel ALIA Cikini. Arsyad Indradi si Abah dari Banjarbaru setia bersaksi sampai subuh mengakhiri sua kita. Maka, lewat lembar-lembar yang memuati aksara, kata dan kalimatku kulanjutkan memeras tuntas kenangan kreatif penuh makna. Aku mencatat satu pelajaran: Penyair kecil merencanakan, PENYAIR AGUNG menentukan. Dan, surat sastra ini tebusan bagi keakraban yang sempat tertunda. Ya, segala yang tertunda harus ditebus.</p>
<p>Tak terasa musim begitu cepat bergulir kini sudah lewat purnama, tapi bukankah rembulannya sudah diboyong dalam dada, jadi biar gak pake senter malam-malam jalan di lorong kelam ya tetap saja padhang (terang benderang). [Eh, aku kok mak nyiuuut ingat subuh-subuh nyeberang jalan sambil berlari ngejar Kopaja 502 yang lintas depan Hotel Alia Cikini. Aku kok bisa melakukannya ya, padahal bis itu cukup kencang dan sudah gerak ketika kaki ini belum sempurna. Wow, jika si Abah tahu saat itu, tentu wong Banjar itu menimpuk jarak jauh tengkuk sopir Kopaja yang sembrono itu. Aku tak pernah bilang hal ini sama si Abah. Nanti kalau dalam kebersamaan gak boleh begadang lagi, meletotin aku sambil miringkan topi. Eh, awas ya jangan bilang yang barusan kutulis ini]. (Abah Arsyad Indradi menyaksikan peristiwa Diah Hadaning yang berlarian mengejar Kopaja 502. Si Abah seperti tersihir oleh kejadian itu lalu seolah ditampar oleh sebuah kesadaran: “Aku sungguh keterlaluan membiarkan peristiwa mengharukan itu lewat di depan mataku. Untuk mengenangnya, aku gubah dalam ‘Malam Penuh Riwayat’”, begitu SMS dari Abah Arsyad Indradi). </p>
<p>Mitraku, musim datang dan pergi, peristiwa silih berganti. Ada yang kehilangan, ada yang menemukan kembali. Ada yang minta tak jua diberi. Ada yang tak minta, diberi. Ada yang bertanya dibiarkan, ada yang belum bertanya sudah diberi tahu. Ada yang punya dua diambil satu namun ada yang minta satu diberi dua. Dan masih banyak contoh sejenis itu. Artinya, perhatikan petuah leluhur yang begini: Jadilah orang yang terkasih dan disayang (OLEHNYA). Tentu saja tidak mudah untuk menjadi seperti itu. Selain faktor perjuangan lahir batin, tentu besar pula pengaruh faktor keberuntungan. Indahnya keberuntungan, di mana jelas ada ‘ikut campur Tangan Tuhan’. Semoga kita-kita termasuk yang kuutarakan itu. Sampai usia cukup tinggi (senja bagiku dan jelang senja bagimu) kita masih diberkahi-NYA daya lahir batin. Betapa indahnya doa dan kidung alam.</p>
<p>Kita percaya, bahwa semua itu ada kaitannya dengan memaknai simbol Segi Tiga Sama Sisi? Suatu simbol yang pas bagi yang menjadi seniman. Kesadaran arti kehadirannya di jagad raya, khususnya jagad sastra, khusus lagi jagad kepenyairan. Dia hadir karena ada yang menghadirkan dan ada tempat untuk kehadirannya. Ya, kau, ya aku, ya mereka yang searena dengan kita. Kita adalah bagian dari segi tiga sama sisi itu. Yang tak memanipulasi posisi. Bahwa titik puncak adalah CAHAYA (DIA), titik kaki yang satu adalah bumi (KEHIDUPAN), titik satu lagi adalah kita (MANUSIA). DIA mengatur segalanya. Tahukah, aku tak pernah bermimpi jadi penyair seperti orang menyebutku. Aku diprogram jadi Pekerja Sosial (social worker) dengan pendidikan khusus. Tapi aku ‘mbalelo’ lantas otodidak sastra dan langsung ‘praktek’ nulis. Banyak hal pantas ditulis tapi juga banyak hal tak pantas ditulis apalagi untuk konsumsi rubrik budaya. Tahun-tahun 70-an hal ini memang sangat dipahami. Kupikir sangat beda dengan era pasca-reformasi. Semua dan segala bebas. Demokrasi diartikan ‘sangat bebas’ maka liberal lantas. Merdeka juga diartikan sangat merdeka mana suka, maka jadilah bablas. Sekarang bangsa ini (termasuk kita sebenarnya, kan kita termasuk bagian dari bangsa ini meski kita tak ikut menambah barisan yang kebablasan itu) maju kena mundur kena dalam segala aspek kehidupan. Dari hal politik, keamanan, sosial, budaya, lingkungan hidup. Ya, ketika kepentingan ikut bicara, semua nilai menjadi lain. Fakta membuktikan. </p>
<p>Mitraku, berbahagialah kita-kita, dalam jaman yang penuh poranda ini kita masih diberi kesempatan berkreasi, dan daya untuk bertahan di jalan-NYA. Ketika teknologi jadi panglima, benarkah sastra harus dimuseumkan? Ketika puisi cyber muncul, benarkah nyetak buku antologi tak diperlukan lagi? Tak sesederhana itu, kan? Bukankah kriminalitas di mana-mana puisi tetap ditulis penyair? Bukankah bom berjatuhan penyair tak henti menulis puisi? Bukankah hukum tegak ataupun kolaps puisi tetap kita tulis? Karena kita saksi jaman, bukan? Dan sebagai saksi harus mempertanggungjawabkan Pemberian-NYA. Ya, penyair memang wajib bertanggung jawab kepada TUHAN Sang Pemberi Bakat, kepada bangsa dan sesama karena merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan besar ini, dan bertanggung jawab juga pada nuraninya. Menulis yang layak ditulis dan tak menulis yang tak layak ditulis. </p>
<p>Mitraku, puisi memang tak sebatas kata-kata. Di tangan seniman (sastra) puisi bisa menjadi apa saja. Di sinilah fungsi itu. Bagai pedang sakti, jika jatuh di tangan pendekar hitam, bisa untuk membunuh. Jika jatuh pada pendekar aliran putih untuk menyelamatkan. Begitu pun puisi (rumpun kata-kata) itu. Ia bisa untuk membangkitkan semangat perjuangan, ingat puisi-puisi Chairil Anwar KERAWANG-BEKASI, CATATAN 1946, PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO, DIPONEGORO, misalnya. Puisi juga bisa jadi media balas dendam misal puisi-puisi mimbar bebas tahun 1998 dan puisi-puisi peduli bangsa di rubrik-rubrik budaya. Tapi puisi juga bisa membuat ‘kelenger’ jika penikmatnya tak kuat hati menikmati puisi-puisi gaya ‘syahwat merdeka’. Ya, puisi memang multi fungsi. Bisa jadi penyembuh, memberi pencerahan, menyemangati, komunikasi antarsesama, dan untuk skala yang lebih besar, bisa jadi jembatan silturahmi antarbangsa, meningkatkan hubungan baik dan saling memahami, dan lain-lain.</p>
<p>Percayakah, selama penyair masih sadar ruang, sadar waktu, dan sadar peran, puisi tetap ‘hidup’. Meskipun belum tentu bisa ‘menghidupi’ jika penyairnya termasuk yang masih berkutat dengan ekonomi. Jangan biarkan diri kita tergelincir pada gaya laris manis, bongkar pasang dan main-main dengan kata, karena mahkota puisi adalah bahasanya, pilihan katanya. Jika tak begitu, apa beda bahasa penyair dengan bahasa trotoar, bukan? Barangkali sebagian kalangan kita tak hirau ungkapan pemikiran Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) yang pernah digandrungi karena kumpulan puisinya LAUTAN JILBAB. Tapi aku percaya bahwa kau, para mitra serius dan juga aku sependapat dengan tokoh KENDURI CINTA ini; Jika terlalu berindah-indah dengan kata, jadinya puisi pepesan kosong. Ya, Cuma kata-kata indah yang dikemas. Tapi tak ada isi. Tak ada nilai. Tak ada visi dan misi.</p>
<p>Sebenarnya jika kita mau jujur, banyak nian yang bisa ditulis khususnya perempuan yang minoritas sebagai penghuni jagad sastra, yang tak hanya seputar cinta keluarga, sekitar meja makan, sebatas ranjang, maupun keberanian ‘membaca/menulis diri sendiri’, yang oleh sekalangan kritikus disebut kemajuan dalam berekspresi. Dari bacaan lama tentu kita ingat, bahwa para pujangga dulu, untuk menulis puisi, mereka perlu ‘nglakoni’ yaitu bersih jiwa raga agar karyanya prima. Maka karyanya bisa abadi. Menulis puisi bukan dengan rumus kontemporer: sama dengan buang gas lantas lega, bukan asal cret-cret-cret jadi puisi. Jika hanya sebatas itu, sungguh repot para redaksi budaya, karena harus sedia keranjang sampah, eh naskah, di sekitar meja.</p>
<p>Bagi penyair, mencari tentu bukan hanya untuk diri sendiri. Mencari makna jika dapat ia akan bagi dengan yang lain. Setiap gerak akan berdampak. Tak ada gerak yang sia-sia dalam hidup ini, sekecil apa pun. Selalu ada yang bisa dipetik dari segala hal dalam gelar semesta ini. Ada kalanya seusai membaca karya tertentu dari seorang penyair, kita merasa menemukan sesuatu, merasa lebih ringan perasaan yang semula menekan, merasa lebih dekat dengan Tuhan, dan banyak lagi.</p>
<p>Surat ini akan segera kuakhiri. Waktu telah menunjukkan jam 03.00 dini hari. Semoga semua mitraku di mana saja berada saat ini dalam keadaan baik. Jika saja aku telah memiliki padepokan seni serba guna, tentu setiap saat kubiarkan para mitra yang jauh transit di Teratak Gondosuli sebelum ke Jakarta. Tidak seperti sekarang ini, para mitra harus repot cari hotel di Jakarta untuk bermalam. Itu yang punya dana bagus. Yang minus dana? Dulu sebelum area sebelah Barat jadi TETER KECIL seluruhnya, ada WISMA SENI. Para seniman bisa dengan mudah mendapat tempat nginap dengan tarif yang terjangkau. Aku mimpi lho, dengan Gubernur baru nanti, Jakarta dengan TIM yang masih jadi kebanggaan(lah) dilengkapi Wisma Seni. Pemimpin juga harus sayang seniman, bukan? </p>
<p>Oya, masih ingat obsesiku? Menjadi Seorang Nyai, punya padepokan (GONDUSULI), tempat orang datang, menyapa, bertanya, berekspresi atau sekedar melepas kangen dan dialog kreatif berhari-hari, alangkah indah. Untuk mewujudkan mimpi besar itu, sudah berulang kali aku merilis untuk menyajikan dramatisasi puisi, yang honornya bisa untuk membangun padepokan di pinggir kota. Ada apotik hidup, ada pengembangan obat-obatan tradisional. Tentu saja ada pendapa untuk berekspresi dan diskusi ataupun melakukan berbagai ritualan. Apakah itu ritualan Syuran, Hari Bumi, ganti nama, bahkan potong rambut seniman yang ingin buang sengkala. Tapi semua itu masih tetap di awang-awang, karena sampai saat ini belum seorang pun dermawan-jutawan-milioner yang tergerak berbagi keberuntungan.</p>
<p>Mitraku, sebenarnya untuk hari lusa yang tersisa dari perjalanan kreatifku ini, aku masih tak punya gambaran jelas. Tapi aku tetap yakin, ada suatu MISTERI TUHAN ditujukan padaku, karena aku masih terus dan terus DIPELIHARANYA dan DIRAWATNYA sampai umur senja, dan tetap setia menekuni jagad kepenyairan meski secara materi memang tak menjanjikan. Aku tak peduli tak bisa jadi kaya seperti para novelis. Urusan rejeki yang ngatur YANG DI ATAS. Aku sudah sangat puas, diberi-NYA semangat terjaga, kesehatan AHA, banyak saudara, banyak mitra, ada cakrawala ada pula pelangi jingga di langit raya. Ah, indahnya alam raya dalam SIRAMAN KASIHNYA.</p>
<p>Aku pernah cerita, di setiap tikungan perjalanan usia, selalu ada ‘kendala’ dan eloknya, di setiap itu pula Tuhan ‘menghadirkan’ utusan-NYA untuk MENOLONG aku dalam sikon membutuhkan pertolongan dalam pengertian yang luas. Di dunia ini, selain semakin banyak manusia yang arogan, egois, sarkastis, sadis, borjuis dan ceriwis, ternyata masih banyak juga insan budiman, ramah dan sabar, menghibur dan suka menanyakan kesehatanku, mengajak canda dan ketawa meskipun jarak jauh. O, aku tak banyak kesepian, meskipun kesepian begitu akrab denganku. Tahukah? Hal-hal itu tonikum rohani bagi seumurku. Matur sembah nuwun GUSTI, paringipun keelokan puniki. Amin. Amin. Amin. </p>
<p>Salam kreatif selalu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/surat-sastra-dari-diah-hadaning-menebar-virus-jingga-lewat-surat-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suara Hati Sanubari Penyair  (Sobron &amp; Asahan Aidit)</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/suara-hati-sanubari-penyair-sobron-asahan-aidit/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/suara-hati-sanubari-penyair-sobron-asahan-aidit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 17:25:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[
			
			
				displayedGalleries += '&#124;73';
			
		Catatan dari Brussel (23) 
A. Kohar Ibrahim 
DALAM kumpulan tulisan bersama &#8220;Ziarah&#8221; tiga bersaudara Aidit, hanya termuat cerita cerita pendek Sobron Aidit. Karena memang Sobron itu yang terutama dikenal sebagai prosais. Namun selain itu dia juga dikenal sebagai penyair. Terbuktikan sejak awal tahun 50-an abad lalu dengan sajak-sajaknya yang termuat dalam kusajak &#8220;Ketemu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photosmash_gallery"><div id='bwbpsInsertBox_73' style='clear: both;'></div></div>
			<div class='bwbps_clear'></div>
			<script type='text/javascript'>
				displayedGalleries += '|73';
			</script>
		<p>Catatan dari Brussel (23) </p>
<p>A. Kohar Ibrahim </p>
<p>DALAM kumpulan tulisan bersama &#8220;Ziarah&#8221; tiga bersaudara Aidit, hanya termuat cerita cerita pendek Sobron Aidit. Karena memang Sobron itu yang terutama dikenal sebagai prosais. Namun selain itu dia juga dikenal sebagai penyair. Terbuktikan sejak awal tahun 50-an abad lalu dengan sajak-sajaknya yang termuat dalam kusajak &#8220;Ketemu di Jalan&#8221;. Suatu kumpulan sajak bersama dua sahabatnya sesama penyair: Ajip Rosidi dan SM Ardan, terbitan Balai Pustaka 1955-1956. Yang baginya, persahabatan yang terabadikan itu sangat mengesankan. Sampai beberapa dasa warsa kemudianpun masih bisa dirasakan dalam sajaknya berjudul &#8220;Surat Sahabat&#8221;, tersunting dalam kusajak Puisi, Kreasi nomor 11 1992: </p>
<p>(Buat Ajip Rosidi) </p>
<p>Mau pulang ke kampung halaman<br />
tapi tak berumah<br />
kembali dari kerja sehari-hari<br />
tapi kamar sepi, isteri sudah lama pergi<br />
deringan tilpun sudah tak menarik<br />
karena sudah kian berat beban di pundak<br />
lalu kemana membawa diri?<br />
termangu di tepi tungku<br />
dengan dada sarat oleh rindu. </p>
<p>Lagi-lagi kubaca surat seorang kawan<br />
bukan, bukan surat<br />
isi hati setiakawan<br />
yang jauh dari pada dendam<br />
yang rela berbagi kesedihan<br />
walau sepuluh ribu batu terpisah<br />
dijembatani kertas bersurat<br />
hati yang beku menjadi sedikit hangat<br />
kuukir-lukiskan persahabatan tulus<br />
karena pesannya sungguh seharga emas<br />
agar tak lupa kepada-Nya. </p>
<p>Termasuk diri mengenang waktu lalu<br />
mungkin inilah gerbang<br />
mungkin inilah pintu<br />
untuk kembali ingat kepadaNya. </p>
<p>Tak syak lagi, sajak tersebut ditulisnya setelah menerima surat dari salah seorang sahabat lamanya yang dulu &#8220;Ketemu di Jalan&#8221;: Ajip Rosidi. Seorang penyair yang memang kemudian &#8220;bersimpangan jalan&#8221; secara politis-ideologis. Meskipun demikian dan meskipun lama telah berpisahan tempat tinggal, namun ternyata tetap memelihara semangat hubungan persahabatan. Dan terasa sekali betapa pengaruh sentuhan sang penyair yang alim beriman Ajip pada alam rohaniah Sobron yang pada dasarnya juga beriman. Apa pula kalau sudah menyentuh hal ihwal yang berkaitan erat dengan batiniah lainnya, seperti yang berkenaan dengan isteri yang sudah berpulang ke alam baqa. </p>
<p>Suasana alam batiniah yang dituangkan Sobron dalam sajaknya itu bisa saya segera maklumi, karena dalam periode tertentu pernah sama-sama tinggal di suatu tempat permukiman yang sama. Di salah satu bekas tangsi Tentara Pembasan Rakyat kota Nanking. Maka, tiap hari ketemu di anatara empat tembok, kiranya bisa saya kenallah bagaimana kehidupan kekeluargaannya. Bagaimana kasih sayangnya pada keluarga, pada isteri dan anaknya pernah saya saksikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Sikap Sobron tentulah tak lepas dari hasil didikan orangtuanya. Yang tercemin dalam sajaknya berjudul &#8220;Aku dan Ibu&#8221; yang ditulisnya tahun 1981: </p>
<p>Ibu,<br />
belasan tahun aku menanggungkan rindu<br />
terasa tanganmu membelai dengan kasihnya<br />
lembut sejuk<br />
bagaikan hujan menyirami bumi<br />
yang berbulan bertahun diharapkan petani. </p>
<p>Ibu,<br />
kukenang cintamu yang tanpa batas<br />
dan betapa aku telah menyakiti hatimu<br />
ketika kecil nakal dan kau menangis<br />
namun kubenamkan kepalaku di pangkuanmu<br />
terasa jatuh butiran mutiara lembut<br />
dari pelupuk mata yang bagaikan laut<br />
luas dengan rasa kasih sayang. </p>
<p>Ibu,<br />
puluhan tahun berlalu<br />
padaku kau ada selalu<br />
berfikir di hati tua ini<br />
bagaimanakah membalas budimu<br />
yang begitu luhur<br />
cinta kasih luas tak terbatas? </p>
<p>Dalam hal bagaimana Sobron menyuarakan hati, kita bisa temukan dalam berkas berkas sajak lainnya. Salah satunya seperti termuat dalam kupuisi bersama &#8220;Di Negeri Orang&#8221; (hlm 163) yang berjudul &#8220;Tanjung Priuk&#8221;: </p>
<p>Tumbuhan lalang merebah melambai<br />
berdesir pasir mengulum senyum<br />
dan mengalun riak-riak pantai<br />
sedang angin laut deras mendarat. </p>
<p>Nelayan dan bujang ini<br />
hilang rasa kembara di hati<br />
mentatap pasti perasaan damai<br />
dan perasaan gundah menyemai. </p>
<p>Ya, Halilah gadis pantai<br />
menyemai di hati bujang risau<br />
memagar erat menambat kalbu! </p>
<p>Ya, Halilah gadis Tanjung<br />
Halilah gadis laut mengimbau<br />
La Ilah! tumbuh di hati ini bunga biru! </p>
<p>Tak bisa disangsikan, bahwasanya sajak tersebut ditulis setelah Sobron Aidit sempat menginjakkan tapak kakinya kembali ke tanahair. Dalam upaya untuk bisa melaksanakan niatnya berziarah. Sekalian mencoba kembali untuk kelayaban pula sebagai seniman dengan memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Maka, sebagai penulis yang cukup produktip, kepulangannya itu juga telah mendorong semangatnya untuk berkreasi. Selain menulis baris-baris puitis, terutama sekali kreasi yang prosais. </p>
<p>JIKALAU Si Abang terutama sekali dikenal sebagai penulis prosa, maka adiknya, Asahan Aidit dikenal sebagai penyair. Meskipun dia pun menulis cerita pendek dan roman. Diantara para penyair eksil Indonesia yang berkas-berkas tulisannya selama di mancanegara sempat saya simak, Asahan boleh dikata merupakan penyair yang paling kuat, sensitip dan oleh karenanya paling mengesankan. Kuat dalam pengungkapan tema, sensitip dalam kebeningan hatinurani dan kecerahan alam pikiran. Hal mana bisa dirasakan sekalipun hanya dalam berkas sajaknya yang berjdul &#8220;Ziarah&#8221; yang termuat dalam kumpulan tulisan dengan judul serupa itu. </p>
<p>Seperti dikethaui, Asahan Aidit dilahirkan di Belitung pada tahun 1938. Pendidikannya? Hingga 1961 di fakultas sastra Universitas Indonesia Jakarta. Pada tahun 1966 menamatkan studinya di fakultas filologi di Moskow dan mendapat gelar M.A. Tahun 1975 mempelajari bahasa dan sastra Vietnam di Universitas Hanoi dan pada tahun 1978 membela disertasi dan mendapat gelar Ph.D. </p>
<p>Kreativitas seninya? Asahan mulai menulis pada usia 14 tahun. Diantara tulisannya ada yang dimuat dalam majalah-majalah: Waktu (Medan) 1954-1956, Mimbar Indonesia (Jakarta) 1955, Merdeka (Jakarta) 1955, Sunday Courier (Jakarta) 1954 dan di beberapa ruang kebudayaan surat kabar Jakarta dalam tahun-tahun limapuluhan. </p>
<p>Dalam tahun sembilan puluhan, seperti sejumlah penulis eksil lainnya, Asahan termasuk yang paling rajin mengisi majalah-majalah yang saya edit seperti Kreasi dan Arena. Kemudian, pada tahun 2000, untuk penerbitan versi baru Kreasi dia berfungsi sebagai ketua dewan redaksinya. Sekalipun hanya bisa menerbitkan beberapa nomor saja. </p>
<p>Berkas-berkas prosa dan puisinya tersunting di beberapa kumpulan tulisan bersama. Seperti, selain &#8220;Ziarah&#8221;, yang lainnya berupa kumpulan sajak bersama &#8220;Puisi&#8221;, Kreasi nomor 11 1992; kumpulan tulisan &#8220;Kritik dan Esai&#8221;, Kreasi nomor 14 1993; kucerpen &#8220;Kesempatan Yang Kesekian&#8221;, Kreasi nomor 26 1996; kupuisi &#8220;Yang Tertindas Yang Melawan Tirani&#8221; (1), Kreasi nomor 28 1997 dan yang ke-2, Kreasi nomor 39 1998; &#8220;Di Negeri Orang&#8221; Puisi Penyair Indonesia Eksil, edisi Amanah Lontar Jakarta dan YSBI Amsterdam 2002. Sedangkan buku-bukunya adalah berupa kusajak yang saya edit, berjudul &#8220;Perjalanan Rumah Baru&#8221;, Stichting ISDM Culemborg 1993; &#8220;Menangisi Viet Tri, PT Dunia Pusaka Jaya 1998 dan tahun 2001 oleh penerbit yang sama sebuah roman berjudul &#8220;Perang dan Kembang&#8221;. </p>
<p>Sebelum memulai menikmati sajian hasil karya puisinya berupa sajak berjudul &#8220;Ziarah&#8221; yang monumental itu, saya kira ada baiknya kita perhatikan beberapa sajak Asahan sebelumnya. Sayak-sajak yang mempertandakan kepekaan atau kepeduliannya akan hal ihwal manusia, terutama sekali yang juga merasakan kepedihan hati seperti kepedihannya sendiri sebagai insan yang manusiawi. Seperti seberkas sajak-sajaknya yang tersunting dalam kupuisi bersama &#8220;Puisi&#8221;, Kreasi nomor 11 1992, yang diberinya judul &#8220;Sajak Sajak September&#8221;. </p>
<p>Terasa sekali jelujur benangmerah kepedulian sekaligus suasana blues yang menghantui hati dan pikirannya berkenaan dengan bulan yang sarat akan kenangan malapetaka yang melumpuh-binasakan sebagian umat manusia di kawasan Nusantara. September Biru. Bahkan September Hitam dalam sejarah Indonesia mupun dunia. Yang dampak nistanya berlarut seraya menjalar liar di seluruh Nusantara bahkan sampai ke mancanegara. </p>
<p>Bahkan, dalam suasana &#8220;pesta makan dan anggur&#8221; pun masih dibayang-bayangi kegelisahan akan masih adanya &#8220;hukuman dan benda-benda lainnya / termasuk kenangan indah yang menyiksa / pelajaran terakhir dari hidup ini&#8221; (hlm 12). Lalu simak suara hati sanubari Asahan yang diungkapkan dalam sajaknya &#8220;Kenangan Selanjutnya&#8221; (hlm 13): &#8220;Sejak kepergianmu / Kau telah berubah menjadi sajak / Dan aku menjadi pemberontak / Menembaki sepi dan mimpi.&#8221; </p>
<p>Sajak selanjutnya berjudul &#8220;Aku Bayangkan Kau&#8221; sangat menggugah hati saya, bukan hanya dalam menikmati baris-baris puitisnya namun dalam turut hanyut dalam bayang membayangkan pula. Membayangkan sesosok tokoh pemuda yang tinggi tegap tetapi begitu lembut dan fragile hatinya yang kemudian telah memasuki alam rembang petang. Namun ingatannya masih segar oleh keindahannya sendiri. </p>
<p>Aku bayangkan kau itu indah peramah dan pendiam / Mungkin karna aku sudah jauh darimu / Kurindukan kau itu masih seperti dulu / Kerna kau adalah kelezatan / Pelepas nafsuku penembus kehampaan / Tapi teman-teman yang di sana kulihat miring-miring tulisannya </p>
<p>Dan aku lalu mengerti / Kau sudah lama bukan perawan / Tamu-tamu sopan berdatang silih berganti / Dedauanan jadi kering dan mati / Masih bisakah kita bicara tentang cinta / Orang-orang baik masih menyanyikan kenangan rindu / Bukan tanpa kasihan / Bila aku datang akan bisakah aku merawatmu / sedang aku sudah begini lelah dan tua / Kuharap kau bisa hamil dan melahirkan. </p>
<p>Lebih jauh Asahan mengungkapkan suasana alam terorisme yang menguasai Nusantara segera setelah terjadi September Hitam dan yang berkembang menjadi budaya ketakutan, seperti dalam sajaknya &#8220;Orangorang Yang Boleh dan Tidak&#8221; (hlm 14) : </p>
<p>Orang-orang yang boleh bicara / Orang-orang yang bisa bicara / Orang-orang yang takut bicara / Orang-orang yang terpaksa bicara / Orang-orang yang tukang bicara / Bilang: / Mereka pembunuh / Orang-orang yang tidak bisa lagi bicara / Orang-orang yang tak boleh bicara / Orang-orang yang tak diharapkan bicara / Bilang: / Tak terdengar suara / Karna mereka sudah dibunuh / Karna mereka sudah disiksa / Karna mereka sudah dibuang / Bicara. Cuma bicara / Dunia bisa dibalikkan / Berjuta insan merintih / Tertindih kegelapan / Mengapa harus demikian / Karna memang tak ada pertarungan / Yang ada perkosaan. </p>
<p>Ketika menulis baris baris kata puitis tersebut, Asahan bukan lagi berandai-andai, melainkan mengungkap realisma seraya menegaskan, bahwa peristiwa tragedi yang mengerikan itu bukanlah karena adanya pertarungan, melainkan perkosaan belaka, nyaris pasrah begitu saja. Suatu perkosaan yang brutal, tanpa ampun, karena pemerkosa menggunakan ujung bedil yang memuntahkan peluru. Yakni &#8220;Serdadu-serdadu penembak dekat / Serentak berbaris lalu berhenti / Serentak menembak lalu kembali / Korbannya tertutup mata ada yang tidak / Nyawanya terbang melompat ke jurang / Karna Tuhan juga enggan menerimanya / Karna dilanggar kuasanya / Nyawa-nyawa itu tak menjadi roh-roh / Suka membukai pintu-pintu rumah / Menawarkan dendam dan pembalasan.&#8221; </p>
<p>Demikian diungkapkan Asahan tentang orang-orang yang &#8220;diperkosa&#8221; dan &#8220;pemerkosa&#8221;nya dalam sajaknya berjudul &#8220;Juru Tembak dan Para Korban&#8221; (hlm 14). Suatu tragedi yang pernah terjadi di arena Nusantara. Yang mempertandakan watak kekuasaan dan penguasa jenis apa yang tengah mengangkangi kawasan negeri kepulauan ini. Yang kelangsungannya cukup lama sampai berdasa-dasa warsa. Yang selalu mengancam, bukan saja generasi yang lebih tua atau semacam Asahan, namun juga generasi baru. Seperti yang diwakili oleh seorang penyair Wiji Tukul. </p>
<p>Ketika sang penyair muda tapi cepat menjadi dewasa dan besar itu pun mendapat giliran terkena ganjaran sang penguasa angkara murka, tak ayal Asahan menulis baris-baris puitisnya berjudul &#8220;Wiji yang di Tukul.&#8221; Sebagai pernyataan suara hati sanubarinya, simpatinya. Bersimpati karena merasa senasib, baik sebagai manusia maupun sebagai penyair, yang sama-sama kehilangan kebebasan dan harga diri. Hilang dirampas dan diinjak-injak sang penguasa demi menegakkan dan melanggengkan serta mendemonstrasikan arogansinya. *** </p>
<p>Catatan :<br />
Naskah CdB (23) pertamakali disiar edisi cetak &#038; online Harian Batam Pos 14 Juli 2003. Disiar ulang Situs Sastra Nusantara Cybersastra 7 Maret 2004. ABE-Kreasi Multiply Site 27 Februari 2007; juga situs lainnya seperti Bekasinews, dan lainnya lagi.<br />
Biodata A.Kohar Ibrahim: http://16j42.multiply.com/links/item/120/<br />
Disiar ulang di Facebook 25 April 2010 untuk menemukan pembaca lebih banyak dengan harapan bisa dijadikan bahan pertimbangan adanya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/suara-hati-sanubari-penyair-sobron-asahan-aidit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
