DUET BACA PUISI ARSYAD INDRADI – MARTIN JANKOWSKI (penyair Jerman)
7 Desember 2006, Ulam Banjarmasin.
Kereta api Jakarta – Bogor (Martin Jankowski)
“Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan” Taufik Ismail
sebuah kereta mendekat dengan gemuruh
berdesakan orang memasuki kotak-kotak mendidih
tatapan mata mereka menjadi bubur manis
yang tumpah ke atas peron
kami mengambil tempat dalam lipatan keramaian
seorang laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
makin sesak dan panas tapi sekarang datanglah
penjual tas plastik dengan tas plastik
penjual air minum dengan ember berisi es
penyanyi lip-synh dengan pengeras suara
penjual jepit rambut dengan tali digantungi jepit rambut
orang yang membacakan ayat-ayat suci
penjual jeruk dengan keranjang
perhentian pertama
laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
lalu datanglah
pengamen dengan gendang
penjual tahu dengan bungkus-bungkus tahu
penjual air minum dengan ember berisi es
penjual rokok dengan rokok
penjual korek api dengan korek api
lalu penjual air minum datang kembali
perhentian kedua
laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
kami melihat
ibu-ibu dan nenek-nenek
anak-anak dan kanak-kanak
laki-laki dan kakek-kakek (sedang tidur)
penjual air minum dengan ember berisi es
anak laki-laki dan anak perempuan dan
kondektur yang tak berani
mengontrol tiket
perhentian ketiga
laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
lalu datanglah
penjual air minumdeengan ember berisi es
penjual biscuit dengan biscuit
penjual Koran dengan Koran
penjual buku tulis dengan buku tulis
penjual permen dengan permen
bencong dengan lagu-lagu disco
lalu penjual Koran lekas kembali
perhentian keempat
laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
kami tak pernah bosan
melihat pengemis
orang tidur
orang berpasangan
kesempitan
jendela
asap
tukang sapu
dan ember berisi es dengan penjual air minum
perhentian kelima
laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
kami tidur sambil berdiri
dan dalam mimpi kami lihat
penjual tas plastic dengan tas plastic
penjuan air minum dengan ember berisi es
penyanyi lip-synch dengan pengeras suara
penjual jepit rambut dengan tali digantung jepit rambut
orang yang membacakan ayat-ayat suci
penjual air minum datang kembali
dan pemuda-pemuda turun dari atap lalu
masuk lewat jendela
perhentian terakhir
dengan patuh kami mengalir keluar dari ktak-kotak mendidih
di atas peron mimpi kami berlanjut
seperti bubur manis orang berdesakan keluar
dan menderas memasuki jalan-jalan kota
laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
Dari : Indonesisches Sekundenbuch “ Detik-Detik Indonesia “



March 27th, 2009 at 03:31
Yeah salut penyair Jerman mengapresiasi kehidupan di Indonesia. So, kapan lagi ke Banjarmasin, Bung Martin ?