<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lintasan Sastra</title>
	<atom:link href="http://arsyadindradi.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arsyadindradi.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 16:09:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puisi Arsyad Indradi</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-3/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 17:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[



]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image23_img" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S46Z6ZPgcBI/AAAAAAAACbU/m07kscT9Ml0/S760/puisi+dalam+gambar.jpg" width="400" height="300"><br />

</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Penyair Dunia ( 5 )</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-5/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:59:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[



Walt Whitman  (1819-1892 )
Penyair Amerika.Ia memulai memunculkan sajak-sajak bebas modern. Banyak pengalaman hidup seperti menjadi : opas kantor, guru sekolah, redaktur, pembantu pendeta, tukang kayu, kusir kereta pos, penyalin dan jururawat. Ia merawat serdadu-serdadu yang luka dalam perang saudara di Amerika. Delapan tahun lamanya ia bekerja sebagaia klerk kantor pemerintah di Washington. Karena lumpuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image35_img" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SdrYfcodw8I/AAAAAAAACMo/7zpDrR5KiCs/S269/Walt+Whitman.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p><strong>Walt Whitman  (1819-1892 )</strong></p>
<p>Penyair Amerika.Ia memulai memunculkan sajak-sajak bebas modern. Banyak pengalaman hidup seperti menjadi : opas kantor, guru sekolah, redaktur, pembantu pendeta, tukang kayu, kusir kereta pos, penyalin dan jururawat. Ia merawat serdadu-serdadu yang luka dalam perang saudara di Amerika. Delapan tahun lamanya ia bekerja sebagaia klerk kantor pemerintah di Washington. Karena lumpuh ia berhenti. Buah penanya yang sangat terkenal :  Leaves of Grass (1955), Out of Cradle Endlessly Rocking, dan Lilac Last in the Dooryard Bloomed. Whitman adalah seorang revolusioner, seorang berdarah pemberontak. Pengaruhnya dilapangan puisi berasa sampai di Eropah. Salah satu sajaknya :</p>
<p><strong>SERUAN PENGHABISAN</strong></p>
<p>Akhirnya, dengan mesra<br />
Lepaslah aku di tanah<br />
Dari tembok-tembok kubu kukuh,<br />
Dan kertap gembok berantai-dari lindung pintu rapi tertutup</p>
<p>Lepas aku diam meluncur pergi ;<br />
Dengan lembut sebagai kunci ; bukalah gembok-gembok dengan sehembus bisik<br />
Bukalah pintu-pintu, o Ruh !<br />
Dengan mesra ! jangan tergesa !<br />
( Kuat peganganmu, daging fana !<br />
Kuat peganganmu, o kasih ! )<span id="more-330"></span></p></blockquote>
<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image32_img" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SdrYCiBSdoI/AAAAAAAACMQ/4_157KRxW2c/S269/T.S+Eliot.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p><strong>Thomas Stearnes Eliot</strong></p>
<p>Penyair bangsa Amerika dan kritikus. 1937 ia menjadi warga Negara Inggeris.Ia benci terhadap peradaban abad ke-20 yang dikuasai oleh kebendaan dan kehendak industri. Perasaannya itu dinyatakannya dalam sajak-sajaknya : Lagu Cinta Alfred Prufrock, Daerah Tandus dan Manusia hampa. Ia paling kecewa terhadap perang dunia pertama dan gagal dalam usaha mencari kebudayaan di Amerika Serikat.Himpunan sajaknya : Prufrock And Other Observations (1917), Poems (19200, The Waste Land (1922), The Hollow Man (1925), The Rock (1932), Collected Poems (1936), Burnt Norton (1941). Salah satu drama bersajaknya : Murder In The Cathedral (1935). Dan salah satu prosanya : Tradition And The ndividual Talent (1920).  Salah satu sajaknya :</p>
<p><strong>LEMBARAN-MALAM BOSTON<br />
</strong><br />
Para pembaca Lembaran-malam Boston<br />
Berayun ditenga angina bagai padang tempat gandum bermasakan<br />
Kala malam halus bersicepat din jalan,<br />
Membangunkan lapar-hidup pada yang satu<br />
Dan pada yang lain membawa Lembaran-malam Boston<br />
Aku naiki anak tangga dan bunyikan lonceng, sambil jemu<br />
berpaling, bagai seseorang berpalaing menganggukkan pamitan pada Rochefouncauld,<br />
Jika jalan : waktu, dan dia di ujung jalan,<br />
Dan aku berkata : “Sepupu Harriet, ini Lembaran-malam Boston”.</p>
<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image4_img" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S4Y7A2tciAI/AAAAAAAACN4/oBlDTUyivaQ/S269/Giocomo+Leopardi.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p><strong>Giacomo Leopardi</strong></p>
<p>Penyair Itali. Lahir di Recanati dan meninggal di Napoli.Masa remajanya ia tidak mendapatkan kasih sayag orang tuanya menyebabkan ia selalu murung dan suka pergi menyepi dan keperpustakaan. Sajak-sajaknya bernada sendu. Ia pembaharu pertama dari lirik Itali sesudah Petrarca dan ia pula menggunakan sajak-sajak bebas di Itali. Buah penanya :”All Italia” dan “ Supra un monumento di Dante” (1818), Idilli (1819) serta “Cantin” dan “ Pension” yakni sajak-sajak yang mencerminkan kasih saying. Pikiran Leopardi terutama berputar sekitar cinta dan maut. Salah satu sajaknya :</p>
<p><strong>KEPADA KALBU SENDIRI</strong></p>
<p>Kini tent’ramlah selanjutnya<br />
Kalbuku lesu. Pupuslah angan-angan terakhir<br />
Yang kekal kukira. Pupus lenyap<br />
Lenyap bagi tipu-manis bagiku :<br />
Tidak saja hasrat, bahkan pun harapan, Istirahlah<br />
Kini seterusnya. Cukup lama<br />
Engkau berdegup. Tak satu pun hidup yang pantas<br />
Menggentar harumu, dan sedesah pun tak layak<br />
Bumi dikeluhi<br />
Biarlah ini<br />
Putus asa penghabisan. Selain mati<br />
Tiada lagi berkah Takdir bagi kita    </p>
<p>Dikutip oleh : Arsyad Indradi<br />
Dari : Puisi Dunia 2 Disusun oleh : M.Taslim Ali<br />
Penerbit : Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta,1961.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas tentang Penyair Gila Arsyad Indradi dan Secuil Sajak Religiusnya</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/sekilas-tentang-penyair-gila-arsyad-indradi-dan-secuil-sajak-religiusnya/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/sekilas-tentang-penyair-gila-arsyad-indradi-dan-secuil-sajak-religiusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 05:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Mahmud Jauhari Ali



Arsyad Indradi

Penyair yang satu ini telah lama saya kenal dengan rambut panjangnya yang aduhai menawan hati. Bersama lima belas seniman Kalimantan Selatan lainnya pernah dipenjara kerena melawan pemerintah. Sejak tahun 1970-an awal hingga sekarang, penyair yang bernama lengkap Muhammad Arsyad Indradi ini masih setia dengan dunia kepenyairan lokal maupun nasional. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Mahmud Jauhari Ali</strong></p>
<div class="widget-content">
<img alt="Penyair Gila" id="Image1_img" src="http://4.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/R3Rl0konVeI/AAAAAAAAABI/YOhRzh10Xng/S240/A.Ind+baca+cerpen.jpg" width="200" height="105"><br />
<br />
<span class="caption">Arsyad Indradi</span>
</div>
<p>Penyair yang satu ini telah lama saya kenal dengan rambut panjangnya yang aduhai menawan hati. Bersama lima belas seniman Kalimantan Selatan lainnya pernah dipenjara kerena melawan pemerintah. Sejak tahun 1970-an awal hingga sekarang, penyair yang bernama lengkap Muhammad Arsyad Indradi ini masih setia dengan dunia kepenyairan lokal maupun nasional. Bahkan tak cuma itu, surat kabar Cina pun sempat memberitakannya di sana. Pemberitaan itu berkaitan dengan buku 142 Penyair Menuju Bulan yang dibuat dan diterbitkannya sendiri serta menyebarkannya di seluruh nusantara. Buku itu memuat puisi-puisi dari 142 penyair di Indonesia, termasuk sajak Sutardji Calzoum Bachri ada di dalamnya. Dan yang paling mencengankan adalah, biaya pembuatan hingga penyebaran buku itu berasal dari penjualan sebidang tanah kesayangannya. Karena itulah ia disebut sebagai penyair gila. Penyair yang benar-benar loyal pada dunia kepenyairan dan menempatkan puisi sebagai bentuk caranya mengagungkan Tuhan dan juga untuk kemanusiaan.</p>
<p>Tadi pagi saya temukan sebuah sajak miliknya yang menurut saya perlu ditanggapi dengan sebuah esai. <span id="more-317"></span></p></blockquote>
<p><strong>Narasi Ayat Batu</strong></p>
<p>Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit<br />
Yang terhampar di sajadahku<br />
Kujatuhkan di tebingtebing lautmu<br />
Cuma gemuruh ombak dalam takbirku</p>
<p>Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah<br />
Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi hutanmu<br />
Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih</p>
<p>Kuseru namamu tak hentihenti<br />
Di ruasruas jari tanganku<br />
Yang gemetar dan berdarah<br />
Tumpahlah semesta langit<br />
Di mata anak Adam yang sujud di kakimu</p>
<p>Ayat Batu. Ayat? Batu? Menjadi sebuah frasa? Jika kita cari di saentero ini sungguh tak pernah ada frasa itu. Kata “ayat” kita kenal sebagai firman Illahi berupa kata-kata yang menjadi pedoman bagi manusia yang bertuhan. Sedangkan “batu” termasuk benda padat yang keras. Lalu apakah ini simbol dari ayat yang sukar dicerna (mutasyabihat) ataukah ayat yang sukar diamalkan karena jiwa belumlah bersih? Bisa juga itu menyimbolkan ayat-ayat Tuhan yang hebat. Tapi, yang terakhir tadi sulit diterima akal karena kata “batu” tak cukup untuk menjadi simbol kemahadahsyatan ayat-ayat Tuhan yang tak serupa dengan hanya puisi buatan manusia.</p>
<p>Namun setelah membaca bagian pembukanya, “Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit”, jelas bahwa Ayat Batu itu merupakan ayat-ayat Allah yang sulit diamalkan manusia yang mengaku muslim. Yang juga menadakan bahwa ayat-ayat Allah hanya dapat diamalkan di puncak pengetahuan dan iman yang tinggi/naik. Kita tidak dapat mengamalkannya jika kita tak mengetahui maksud dari ayat-ayat Allah itu. Kita juga tak bisa menjalankan ayat-ayat Allah jika iman kita turun karena godaan yang begitu hebat menerpa kita. Puncak di sini adalah tingkatan iman dan pemahaman ayat-ayat Allah pada diri kita. Tanpa iman kita tak akan pernah meyakini kebenaraan nash Alquran. Dan jika kita hanya bertaklid buta tanpa ilmu atas isi Alquran itu sendiri, kita tak maksimal beribadah (ikut-ikutan). Inilah menurut saya maksud ayat batu yang dibelah di puncak bukit. jadi, ada dua hal yang menjadi fokusnya, yakni mengetahui (mengerti/memiliki ilmunya) dan menjalankan ayat-ayat Allah.</p>
<p>Dan dalam larik itu tidak hanya puncak sebenarnya, tapi titik puncak/tingkatan tertinggi. Karena itulah Arsyad Indradi menyebutnya dengan kulminasi. Lalu ayat-ayat yang manakah itu? Mari kita amati larik selanjutnya. “Yang terhampar di sajadahku” Apakah yang dimaksudkan itu? Jawabnya adalah sholat. Dalam hal ini ayat-ayat itu ialah ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan perintah sholat. Sangat banyak ayat-ayat dalam Alquran yang berisi perintah sholat. Termasuk juga ayat yang menerangkan faedah sholat seperti “Qod aflahalmu’minunalladzina hum fi sholatihim” (Almu’minun: 1—2). Yang artinya sungguh beruntunglah orang-orang yang mereka khusyuk dalam sholatnya. </p>
<p>Dalam sajak ini Arsyad Indradi menyadari betul sholat itu sebagai bentuk ibadah yang harus dijalankan dengan iman dan ilmu itu yang melahirkan keikhlasan. Keikhlasan itu yakni penyerahan diri di laut (keluasan kekuasaan Allah), lihat larik ketiga pada bait pertama itu. Sehingga, hanya Dia yang ada dalam setiap napas tatkala menyebut Allahu Akbar. Maha Besar Allah itu yang luasnya melingkupi seluruh alam.</p>
<p>Angin mana di gurungurunmu beribu kafilah<br />
Dan beribu unta yang tersesat di tepitepi hutanmu<br />
Dan bersafsaf di oasis bumimu yang letih</p>
<p>Angin di sini bisa berupa cobaan dan godaan yang menerpa manusia-manusia sebagai kafilah di muka bumi ini. Hingga sebagian dari kita tersesat karena hati kita yang disimbolkan dengan “unta” telah ditiupi cobaan itu. Ada yang menarik di sini. Mengapa Arsyad Indradi tidak memakai kata &#8220;kuda&#8221; dan malah memakai kata &#8220;unta&#8221; sebagai simbol hati kita? Padahal kita sering mendengar bahwa penunggang kuda itu adalah pikiran/akal dan kuda itu sendiri adalah hati. Jika akal mampu mengendalikan hati, maka tak akan tersesatlah kita. Nah, di sini kok “unta”? Menurut saya ini untuk lebih mendekatkan puisi ini ke hal yang Islami. Karena unta dan Islam sama-sama akrab dengan tanah Arab. Tanah yang kita ketahui sebagai tanah turunnya Islam. Sebagian hati umat manusia memang telah tersesat atas pemikiran-pemikiran yang lemah (tergelincir) dan itu disebabkan oleh adanya cobaan dan godaan. Banyak di antara kita yang tergelincir di dunia ini, semisal sholat dengan berbahasa Indonesia. Sedangkan rasul saja memerintahkan kita untuk sholat seperti sholatnya beliau. “Shollu ra’aitumunni usholi” (Sholatlah seperti sholatku).</p>
<p>Kuseru namamu tak hentihenti<br />
Di ruasruas jari tanganku<br />
Yang gemetar dan berdarah<br />
Tumpahlah semesta langit<br />
Di mata anak Adam yang sujud di kakimu</p>
<p>Dalam sholat itulah kita benar-benar ingat dan tunduk kepada-Nya. Betapa syahdunya hati menyeru nama Allah dalam doa yang benar-benar khidmat. Terutama dalam sujud kita. Subhanallah sajak ini indah sekali. </p>
<p>Sajak di atas merupakan salah satu saja dari sekian banyaknya sajak-sajak Arsyad Indradi yang merupakan sesepuh bagi sastrawan di Kalimantan Selatan. </p>
<p> Mahmud Jauhari Ali mengomentari catatan Anda &#8220;Puisi-Puisi Cinta Arsyad Indradi &#8220;Romansa Setangkai Bunga&#8221; : <strong>Antara Kapal Berlabuh</strong> :</p>
<p>&#8220;membaca judul sajak ini memeras otak saya untuk memahami maksudnya. antara kapal berlabuh, sebuah judul yang unik dan seakan memainkan arti. ada apa antara kapal berlabuh itu. lalu kapal berlabuh dengan benda semacam apa sehingga ada kata &#8220;antara&#8221; di sana? apakah itu dermaga? inilah salah satu pentas bahasa puisinya Arsyad Indradi yang mengejutkan.</p>
<p>jangan ada sangsi ketika puput penghabisan<br />
pertanda senja akan membawa kita<br />
ke ombak yang paling jauh<br />
muara tak lagi perbatasan bertolaknya</p>
<p>penggelan itu menggabarkan sebuah kesiapan yang harus kita tancapkan dalam-dalam pada jiwa kala usia beranjak tua dan lebih tua lagi. dalam penggelan ini, Arsyad Indradi bermain-main dengan kata puput, senja, ombak, muara, dan juga perbatasan. kata-kata itu sebagian merupakan simbol atas ungkapan-ungkapan jiwanya. ada nuansa keenggenan di sana untuk menuju tua. yang jelas kita tahu semakin tua, maka semakin banyak pula tanggung jawab bagai ombak yang bergulung di laut lepas. mulai kewajiban memeras keringat, mendidik istri, mengurus dan membesarkan anak-anak, dsb. di sini kita benar-benar disuguhi simbol-simbol sebagai penguat sajak ini.</p>
<p>sebuah kapal yang sarat dengan riwayat<br />
yang kita aksarakan pada sebuah perjalanan<br />
dan burungburung laut melepaskan<br />
kepaknya ke karangkarang ketika<br />
kelam menyempurnakan malam<br />
adalah masasilam yang kita sauhkan<br />
pada alir usia kita</p>
<p>penggelan berikutnya ini menggambarkan perjalanan diri kita yang memiliki riwayat hidup. riwayat hidup itu tentunya di masa silam. masa depan adalah riwayat hidup untuk kehidupan yang lebih lanjut lagi. Arsyad Indradi begitu asyik menyelami kehidupan pada penggalan ini. kapal, perjalanan, burung-burung, malam menjadi penarik keindahan hingga melekat padanya. </p>
<p>&#8230;sebab<br />
langit tak lagi dapat menyimpan<br />
pandangan mata bila kita akan<br />
menghitung nasib antara kapal<br />
berlabuh dengan pelabuhan<br />
di mana kita menambatkan keyakinan<br />
maka layar telah kita kembangkan<br />
sebab laut adalah sebuah jalan panjang<br />
yang mesti kita tempuh<br />
dan kita tak perlu lagi berpaling</p>
<p>dari judul di atas yang menimbulkan tanya. akhirnya kita temukan di sini jawabannya. bukan antara kapan dan kapal, tetapi antara kapal dan dermaga/pelabuhan. ini merupakan perjalanan hidup kita yang penuh rona ini.</p>
<p><strong>Kertak Hanyar,4 Feb 2010</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/sekilas-tentang-penyair-gila-arsyad-indradi-dan-secuil-sajak-religiusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Arsyad Indradi :Kenduri Senja</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/kenduri-senja/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/kenduri-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 18:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Kenduri Senja
: Diah H + Dimas AM
O jagat. Siapa membakar dupa disenja sunyi
Hingga ufuk menjadi surup
Dan tujuhratus dewi turun dari pelangi
Menarikan marifat cinta 
Nyi Gondosuli membangun pertapaan yang ke tujuhpuluh,katamu
Akan melahirkan tujuhratus anyaman hati
Cakrawala kehidupannya
Mari kita tabuh tifa
Masuk dalam tujuhlapis asap wanginya
Olala
 Kssb,2010
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kenduri Senja</strong><br />
: <em>Diah H + Dimas AM</em></p>
<p>O jagat. Siapa membakar dupa disenja sunyi<br />
Hingga ufuk menjadi surup<br />
Dan tujuhratus dewi turun dari pelangi<br />
Menarikan marifat cinta </p>
<p>Nyi Gondosuli membangun pertapaan yang ke tujuhpuluh,katamu<br />
Akan melahirkan tujuhratus anyaman hati<br />
Cakrawala kehidupannya</p>
<p>Mari kita tabuh tifa<br />
Masuk dalam tujuhlapis asap wanginya<br />
Olala</p>
<p> Kssb,2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/kenduri-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Arsyad Indradi : Rawi Meratus</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-2/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 03:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[



Rawi Meratus

Tak pupus asap kemenyan
Rohroh pada  bangkit dari tujuh liang gua batu
dari tujuh talikan akar sungsang
Surup melayat hutan melayat gunung
Sayatan tangis karariang tak teduhteduh
Balai tak mampu lagi menyimpan patung sunyi
Disini asal mula tulisan rawi kematian itu
Tapi setelah sekian waktu jadi meranggas
Lalu menjadi sebuah dongeng
Maka tak perlu lagi
membiar risau
meratus makan kembang ilalang
membiar resah
jalan setapak turun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image6_img" src="http://3.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SbNaKzCqg_I/AAAAAAAACFQ/S2ANCF78cfk/S269/header+wordpress.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p><strong>Rawi Meratus<br />
</strong><br />
Tak pupus asap kemenyan<br />
Rohroh pada  bangkit dari tujuh liang gua batu<br />
dari tujuh talikan akar sungsang<br />
Surup melayat hutan melayat gunung<br />
Sayatan tangis karariang tak teduhteduh<br />
Balai tak mampu lagi menyimpan patung sunyi</p>
<p>Disini asal mula tulisan rawi kematian itu<br />
Tapi setelah sekian waktu jadi meranggas<br />
Lalu menjadi sebuah dongeng</p>
<p>Maka tak perlu lagi<br />
membiar risau<br />
meratus makan kembang ilalang<br />
membiar resah<br />
jalan setapak turun ke guntung<br />
membasuh mimpi<br />
Sesungguhnya guntung telah kehabisan airmata</p>
<p>Dan tak perlu lagi berulang membaca rawi itu<br />
Tapi bangkitkan roh rawi nenek moyang<br />
dimana membangun sebuah benua </p>
<p>Banjarbaru,2010</p>
<p>Catatan :<br />
Talikan =  sejenis pohon beringin<br />
karariang = sejenis lalat besar ( gangsir)<br />
guntung  =  anak sungai </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Arsyad Indradi : Nyanyian Laut</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 04:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[



Nyanyian Laut

Hanya kepada laut mencurahkan  suratan hidup
Angin pantai selatan tak pernah diam menakbirkan gemuruh ombak seluasluas laut
Manakala senja dan burungburung pada pulang
Dan nyanyian sunyi selepas ombak di pantai
Meronce buihbuih sepanjang semenanjung
Dari riwayat pelayaran yang panjang
Tak pernah takluk pada takdir
Sebab masih jauh di balik anganangan
Sebelum matahari terbenam dan bintangbintang berjatuhan pada malam
tahukah kau aku menyerumu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image4_img" src="http://4.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S1HgSPQITiI/AAAAAAAACNg/UxVqtNLXSDE/S269/ombak+lautku+2.jpg" width="150" height="100"><br />

</div>
<p><strong>Nyanyian Laut<br />
</strong><br />
Hanya kepada laut mencurahkan  suratan hidup<br />
Angin pantai selatan tak pernah diam menakbirkan gemuruh ombak seluasluas laut<br />
Manakala senja dan burungburung pada pulang<br />
Dan nyanyian sunyi selepas ombak di pantai<br />
Meronce buihbuih sepanjang semenanjung<br />
Dari riwayat pelayaran yang panjang</p>
<p>Tak pernah takluk pada takdir<br />
Sebab masih jauh di balik anganangan<br />
Sebelum matahari terbenam dan bintangbintang berjatuhan pada malam<br />
tahukah kau aku menyerumu sampai pada ujung yang paling penghabisan<br />
Kulminasi karang pada sonder suara menatap merahnya cahya di ufuk<br />
Menafsir kemana awangemawan akan beranjak </p>
<p>Daundaun nyiur pada pohon berkakuan<br />
Kudesaukan sehabishabis angin kembara<br />
Hopla gemuruh<br />
Gemuruh seleluasa ombak mengejarmu<br />
Kaki langit tak risau tak pantang gemulung resah biru laut birunya kalbu merah ufuk merahnya darah jiwa berbuncah<br />
Hanya kepada laut<br />
Kulayarkan segala rindu</p>
<p>Banjarbaru,2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/puisi-arsyad-indradi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI, ESTETIKA DAN MASYARAKAT</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/puisi-estetika-dan-masyarakat/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/puisi-estetika-dan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 15:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Abdul Hadi W. M.
Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abdul Hadi W. M.</p>
<p>Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada panitia oleh karena tidak dapat menumpukan pembicaraan kepada antologi yang dikirim kepada saya untuk dibahas dalam pertemuan ini. Alasannya sederhana, antologi tersebut baru saya terima seminggu sebelum saya berangkat ke Banjarmasin. Sungguh tidak mungkin saya dapat membaca antologi yang berisi lebih dari 100 sajak itu dalam waktu singkat. Kesibukan mengajar yang padat dalam hari-hari menjelang akhir semester juga  merupakan halangan tersendiri untuk membaca antologi tersebut dengan penuh perhatian. Sebagai gantinya saya pilih topik yang ligkup pembicaraannya lebih luas dan umum.Kendati demikian saya akan berusaha tidak melepaskan tanggung jawab  saya meyinggung sajak-sajak dalam antologi yang diterbitkan panitia.<span id="more-294"></span></p></blockquote>
<p>Estetika adalah satu hal, masyarakat pembaca puisi adalah lain hal. Tetapi keduanya bukannya tanpa kaitan dan tak saling berpengaruh.  Perkembangan sastra sendiri pada umumnya, dan perpuisian pada umumnya, banyak dipengaruhi corak-corak wawasan estetik yang dominan pada suatu masa dan juga oleh tinggi rendahnya apresiasi masyarakat serta selera sastranya. Dalam masyarakat yang apresiasi sastranya tinggi, dan tradisi puitiknya mantap serta terpelihara, dunia penulisannya akan cenderung subur. Darinya tidak sukar mengharapkan lahirnya karya-karya yang bermutu dan berbobot. Contohnya bisa dilihat di beberapa negeri Asia yang tradisi sastranya sudah lama berkembang dan tetap terpelihara di dunia modern, ditambah lagi apresiasi masyarakatnya yang tinggi seperti Jepang, India, dan Iran, sebagaimana juga Jerman, Inggeris, Perancis, dan Mesir.<br />
Dalam lingkait (konteks) pembicaraan ini, perlu saya jelaskan saya maksud dengan estetika.  Ia tidak saya maksudkan sebagai falsafah keindahan atau teori keindahan, melainkan wawasan cipta atau wawasan yang mendasari lahirnya sebuah puisi dengan corak dan semangatnya tersendiri bila dibanding dengan puisi lain yang kelahirannya didasari wawasan cipta berbeda. Dalam sebuah puisi ia dapat ditelusuri melalui ciri estetik ungkapannya, serta untuk fungsi apa penyair menggunakan bahasa atau kata-kata. Sebagai suatu yang sifatnya intuitif, ia tidak dapat kita ketahui secara jelas kecuali membaca puisi seorang penyair dan membandingkannya dengan puisi penyair lain.  Tetapi bagaimana pun juga ia selalu melatari penciptaan puisi, dan merupakan unsur utama dari apa yang disebut oleh Hagiwara sebagai shisheisin atau semangat puitik.<br />
Agar tidak bertele-tele marilah saya beri contoh berupa perbandingan sajak Amir Hamzah “Berdiri Aku” dan Chairil Anwar “Senja Di Pelabuhan Kecil”. Saya bandingkan sajak dua penyair ini oleh karena sebenarnya mereka berangkat dari prinsip yang sama. Bagi mereka menulis puisi bukanlah sekadar menyampaikan nasehat atau kritik, juga bukan sekadar bermain dengan kata-kata indah, dan juga lebih dari sekadar mengekspresikan diri, yaitu pikiran dan perasaan. Puisi bagi mereka adalah juga merupakan sejenis renungan terhadap pengalaman batin dan obyek-obyek yang membangkitkan intuisi mereka sehingga terdorong untuk memberi tanggapan. Puisi, dengan demikian, adalah juga merupakan renungan dan sekaligus tanggapan terhadap kondisi eksistensial yang dialami penyair. Keduanya juga meyakini bahwa kekuatan sebuah puisi yang genuine terletak pada bangunan citra (image), baik citra lihatan maupun citra simboliknya, dan metafora. Yang membedakan dua penyair ini ialah pandangan hidup, gambaran dunia, dan erlebnis (pengalaman hidup) masing-masing. Dengan kata lain yang membedakan ialah shiseishin atau semangat puitiknya.<br />
Dalam “Berdiri Aku” Amir Hamzah menulis, “Berdiri aku di senja senyap/Camar melayang menepis buih/Melayah bakau mengurai puncak/Berjulang datang ubur terkembang” (Bait 1) dan pada bait terakhir, “Dalam rupa maha sempurna/Rindu sendu mengharu kalbu/Ingin datang merasa sentosa/Mencecap hidup bertentu tuju”. Semangat puitik yang melatari puisi ini adalah religiusitas. Penyair merasa rumahnya yang sejati bukan di dunia ini, tetapi di alam metafisik. Inilah cirri penyair romantic atau neo-romantik, perasaannya melambung jauh ke  lam  tanzih (transcendental).<br />
Shiseishin Chairil Anwar berbeda. Dalam “Senja Di Pelabuhan Kecil” setidak-tidaknya ia tidak memiliki kerinduan seperti Amir Hamzah. Ia bertahan di rumah eksistensialnya walaupun harus berhadapan dengan sepi dan hampa: “Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ di antara gudang, rumah tua, pada cerita/ tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut/ menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut/” (bait 1) dan pada bait terakhir” “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan…”<br />
Contoh tersebut diberikan untuk menjelaskan bahwa wawasan estetik berbeda dengan semangat puitik atau kepenyairan. Secara sederhana apa yang disebut wawasan estetik di sini ialah  cara-cara penyair memperlakukan bahasa atau kata-kata dan untuk fungsi apa ia memperlakukan menurut caranya. Kita tahu bahwa pengucapan puitik adalah pengucapan tidak langsung menggunakan apa yang disebut bahasa figurative. Uunsur utama bahasa figurative (majaz)  ialah metafora, citra (image), simbol atau tamsil. Dengan itu puisi menjadi multi-tafsir, sebab ia adalah “makna yang menurunkan makna-makna”.<br />
Oleh karena itu fungsi kata dalam puisi tidak hanya mengandung makna referensial atau denotative, tetapi lebih jauh memiliki makna konotatif dan sugestif. Dikaitkan dengan wawasan estetik yang berkembang dalam tradisi sastra di mana pun, pandangan yang berbeda tentang bahasa/kata dalam pengucapan puitik lantas muncul tiga pandangan, atau katakanlah teori, tentang sastra/puisi. Pertama, pandangan bahwa sastra merupakan tiruan kenyataan. Pandangan ini dianut oleh kaum naturalis.  Kata-kata dalam pengucapan puitik ditafsirkan secara harfiah mengikut makna denotative atau referensialnya. Kedua, pandangan bahwa sastra/puisi adalah representasi dari obyek atau kenyataan dilihat dan dialami penulis. Kata-kata mulai dilihat mengandung makna knotatif. Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa sastra/puisi merupakan kias (sibolisasi) atas idea atau pengalaman estetik penyair. Dari pandangan ini lahir keyakinan bahwa kata-kata mengandung makna simbolik dan sugestif. Maka seperti itu berkaitan dengan pengalaman spiritual atau kenyataan transendental yang dialami penyair.<br />
Pandangan yang dominan dalam masyarakat ialah pandangan pertama. Pada umumnya masyarakat kita melihat  bahwa karya sastra merupakan tiruan atau representasi dari kenyataan. Karena itu dapat dimaklumi apabila mereka lebih mengapresiasi karya-karya yang tidak menuntut perenungan seperti sajak-sajak sosial. Kecenderungan ini tidak kecil pengaruhnya pada perkembangan puisi di Indonesia. Karena sajak-sajak sosial, baik yang mengandung pengajaran maupun yang mengandung kritik sosial lebih mudah dicerna dan memenuhi cita rasa estetik mereka, maka perkembangan sajak-sajak seperti sangat subur. Padahal untuk melahirkan sajak sosial yang bagus seperti sajk-sajak Rendra dan Taufiq Ismail, bukanlah suatu yang mudah.<br />
Agar mudah dicerna marilah saya jelaskan sebagai berikut.  Apabila dilihat dari sudut pandang wawasan estetik ada empat kecenderungan umum dalam melihat tujuan penulisan sastra atau puisi.<br />
Pertama, kecenderungan yang memandang bahwa fungsi puisi memberikan pengajaran atau menyajikan tanggapan terhadap kenyataan, khususnya kenyataan sosial. Sajak-sajak yang sarat kritik sosial termasuk dalam klasifikasi ini. Penyair yang memandang fungsi puisi seperti cenderung menjadikan kata-kata sebagai sarana pengungkapan keadaan yang ada dalam masyarakat atau menjadikan kata-kata untuk menyampaikan pengajaran. Tetapi yang berhasil melahirkan karya-karya yang bermutu seperti Rendra, Taufiq Ismail, Emha Ainunnadjib, pada akhirnya  berhasil disebabkan penguasaannya atas bahasa puitik, bukan oleh wawasan estetiknya. Hanya saja kebanyakan orang memandang bahwa menulis sajak seperti itu mudah disebabkan caranya memandang fungsi sastra seperto itu.<br />
Kedua, kecenderungan yang memandang bahwa sastra meruakan ekspresi diri, baik ekspresi diri kolektif maupun diri individual. Penyair yang memilih cara pandang seperti itu akan memperlakukan kenyataan dan obyek-obyek dalam kehidupan dan alam sebagai sarana pernyataan pikiran dan perasaan pribadinya. Sastra tidak lagi dipandang sebagai tiruan (imatasi) atau representasi dari kenyataan, melainkan sebagai pernyataan pengalaman, gagasan dan pikiran subyektif penyair dalam menanggapi kehidupan dan kondisi kemanusiaan. Pada tahap yang tinggi seperti terlihat pada sajak-sajak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Subagio Sasrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, yang dicapai bukan semata-mata ekspresi diri melainkan juga renungan yang mengandung nilai universal. Saya kutip sajak pendek Sutardji Calzoum Bachri:</p>
<p>		Hari ke hari<br />
		Bunuh diri perlahan-lahan</p>
<p>		Hari ke hari<br />
		Luka bertimbun di badan</p>
<p>		Maut menabungKu<br />
		Segobang segobang</p>
<p>Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa puisi sebenarnya hanya permainan kata-kata atau cara membuat indah pengucapan. Pandangan ini tampak dalam puisi yang mengandalkan kekuatannya pada ornamentasi (alamkara Sanskerta) atau kemahiran memainkan kata-kata, termasuk menguir kata-kata. Sajak-sajak panjang Taufiq Ismail banyak menggunakan prinsip ini. Dalam cara dan dengan semangat puitik lain prinsip ini tampak dalam sajak-sajak Amir Hamzah dan Sutardji Calzoum Bachri. Sajak-sajak dengan gaya seperti ini banyak ditemui di Indonesia.<br />
Keempat, pandangan yang berpendirian bahwa sebenarnya puisi lebih dari sekadar permainan kata dan ekspresi diri. Ia juga adalah hasil renungan penyair terhadap pengalaman batin dan kondisi kemanusiaan yang dihayatinya dalam kehidupan sosialnya. Hampir semua penyair terkemuka di Indonesia melahirkan puisi semacam itu walaupun dalam kadar berbeda-beda. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri, melahirkan banyak puisi seperti itu. Penyair seperti Rendra, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, dan lain-lain tak begitu banyak melahirkan puisi seperti itu.<br />
Karena masing-masing memerlukan cara pemahaman yang berbeda-beda, dalam mengapresiasi dan menilainya kita harus menggunakan landasan teori, metode, dan kaedah estetik yang berbeda.</p>
<p> <em>Makalah ini dibacakan pada acara Aruh Sastra Kalsel,tgl 25 sd 27 Desember 2009,di Batola Marabahan.<br />
</em><br />
Biodata :<br />
	Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari)  adalah gurubesar  Universitas Paramadina Jakarta  dalam bidang Falsafah dan Pewradaban. Lahir di Sumenep,<br />
Madura pada 24 Juni 1946, dia memperoleh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada dan Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Gelar Ph. D. diperoleh di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan,  Universiti Sains Malaysia, P. Pinang. Tahun 1973-74 mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Selain mempelajari kesusastraan Melayu/Indonesia dan Falsafah Barat, dia juga mempelajari kebudayaan dan kesusastraan Timur.  Sebagai penyair dia telah menhadiri berbagai pertemuan penyair dan sastrawan internasional di Inggeris, Nederland, Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Filipina, Iraq, Iran, Turki, Libya, Malaysia, Thailand dan lain-lain.<br />
	Dari tahun 1968 hingga 1990 berturut-turut dia menjadi redaktur tabloid Gema Mahasiwa (UGM) dan Mahasiswa Indonesia (Bandung), kemudian majalah dan jurnal Budaya Jaya, Dagang &#038; Industri dan Ulumul Qur`an. Sejak tahun 1979 hingga 1990 menjadi pengasuh tetap lembaran “Dialog” Berita Buana, sebuah ruang kebudayaan yang sangat terkemuka di tanah air. Tahun 1982-1986 menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan 1987-1990 menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Antara tahun 1991-1997  dia menjadi penulis tamu dan sekaligus pengajar di Universiti Sains Malaysia. Setelah kembali ke Indpnesia dia mernadi Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal, serta anggota Lembaga Sensor Film. Sejak tahun 1998 dia mengajar di Universitas Paramadina, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Sejak tahun 2005 diminta mengajar di ICAS (Islamic College for Advanced Study) London cabang Jakarta.<br />
	 Puisi dan esai-esainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Jepang, Korea, Cina, Arab, Urdu, Turki, Bengali, Thai dan lain-lain. Antologi puisinya yang telah diterbitkan antara lain ialah Riwayat, Laut Belum Pasang, Potret PanjangPengunjung Pantai Sanur, Cermin, Meditasi, Tergantung Pada Angin, Anak Laut Anak Angin,  Pembawa Matahari dan Madura, Luang Prabhang, dan lain-lain. Dia banyak menerjemahkan karya para pengarang dunia seperti Goethe, William Blake, Iqbal, Hafiz, Rumi, Ibn `Arabi, TS Eliot, Octavio Paz, Li Po, dan lain-lain. Karya terjemahannya antara lain Kehancuran dan Kebangunan: Puisi Jepang Sesudah Perang; Ruba’iyat Omar Khayyam; Kumpulan sajak Iqbal: Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur; Faust I karya Goethe; Pesan Dari Timur karya Iqbal, dan lain-lain.<br />
	Di antara bukunya tentang sastra sufi dan estetika ialah Rumi, Sufi dan Penyair; Sastra Sufi, Sebuah Antologi; Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya; Iqbal, Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (bersama Djohan Effendy); Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya dan, Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (disertasi PH. D.); Hermeneutika, Estetika dan Religiusitas (2004); Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara (Bersama Edwar Djamaris dan Amran S. Tasai).  Sebagai penyair dan penulis esai terkemuka Abdul Hadi W. M. Telah memperoleh beberapa penghargaan antara lain:  Hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978; Anugerah Seni Pemerintah RI  cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1979; SEA Write Award (Hadiah Sastra ASEAN) dari Kerajaan Thailand 1985; Hadiah Buku Terbaik Yayasan Buku Utama 2001; Hadiah MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara) di Kuala Lumpur, 2003.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/puisi-estetika-dan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Antologi Puisi Bhs.Banjar dan terjmhn Bhs.Indons : BURINIK Karya Arsyad Indradi</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/dari-antologi-puisi-bhsbanjar-dan-terjmhn-bgsindons-burinik/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/dari-antologi-puisi-bhsbanjar-dan-terjmhn-bgsindons-burinik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 15:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Nagriku Saribu Sungai




Duduk di ujung lanting manjanaki banyu baarus sindum
Mendam marasaakan banua bangaran saribu sungai
Kaya apa batawas juakah lagi kenanya
Rumah lanting nang maulah asa banua sorang  pina si’im
Dahulu nyaman banar handak batutukar apa nang diperluakan
Wayahini ngalih malihat jukungjukung lalu mambawa dagangan
Banyak sungainya ditajaki rumah sampai basampuk burit
Mun sudah kabanjiran anyar pina tumbur
Manjanaki kasubarang tajanaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nagriku Saribu Sungai</strong></p>
<div class="widget-content">
<img alt="Pasar Terapung" id="Image2_img" src="http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/S5UK1lRUNUI/AAAAAAAAAiY/uKXLIo8Q9SI/S240/Pasar+terapung.jpg" width="125" height="113"><br />

</div>
<p>Duduk di ujung lanting manjanaki banyu baarus sindum<br />
Mendam marasaakan banua bangaran saribu sungai<br />
Kaya apa batawas juakah lagi kenanya<br />
Rumah lanting nang maulah asa banua sorang  pina si’im</p>
<p>Dahulu nyaman banar handak batutukar apa nang diperluakan<br />
Wayahini ngalih malihat jukungjukung lalu mambawa dagangan<br />
Banyak sungainya ditajaki rumah sampai basampuk burit<br />
Mun sudah kabanjiran anyar pina tumbur</p>
<p>Manjanaki kasubarang tajanaki bangunan nang batingkattingkat<br />
Asa himung jua pang banua batambah maju<br />
Tapi mun dipikirakan kalimpatan pulang<br />
Harus jua tapikirakan kawakah tanahnya manahan<br />
Banyak gedong pina méréngan</p>
<p>Banyak urang datang matan subarang batakun tanah Banjarkah ini<br />
Urang mambayangakan nang ngaran tanah Banjar itu mukaranah béngkéng<br />
Banyak rumah bubungan tinggi rumah gajah baliku rumah palimasan rumah palimbangan<br />
Mun kaya ini ngalihai bapendér<br />
Kaya apa banyak rumah manuruti model rumah urang kepér</p>
<p>Sapatutnyalah urang banua jangan sampai kahilangan jiwa kabanuaannya<br />
Siapa lagi nang mamalihara tanah banyu ini mun kada kita sorang<br />
Apalagi mun handak maju kaya urang<br />
Jangan jua katuju barungkis papadaan</p>
<p>Duduk di ujung lanting ada jualah tataduh hati<br />
Malihat ilung bakambang di tangah batang banyu<br />
Biar sahebar ilung tapi tatap manunjukakan rasa kabanuaannya<br />
Malihat jukungjukung marénda riwayat nagri nang bauntungbatuah</p>
<p>Bbaru,2009-10-22</p>
<p>Indonesianya :<span id="more-290"></span></p></blockquote>
<p><strong>Negeriku Seribu Sungai</strong></p>
<p>Duduk di ujung lanting menatap sungai  berarus muram<br />
Tercenung merasakan tanahkelahiran bernama seribu sungai<br />
Bagaimana punya wajah lagikah nantinya<br />
Rumah lanting yang  membuat  rasa memiliki negri sendiri sepertinya diam membisu<br />
Dahulu sungguh nyaman kalau mau membeli apa yang diperlukan<br />
Sekarang ini begitu langka melihat jukungjukung lewat membawa dagangan<br />
Banyak sungainya ditumbuhi rumah sampai berjubel tak karuan<br />
Jika terjadi kebanjiran baru menjadi ribut</p>
<p>Melihat ke seberang tertatap bangunan yang bertingkattingkat<br />
Rasa gembira jugalah negeri  bertambah maju<br />
Tapi kalau  diperhatikan sungguh terlalu berlebihan<br />
Harus juga terpikirkan mampukah tanahnya menahan beban<br />
Banyak gedung terlihat miring menunggu ambruk</p>
<p>Banyak orang datang dari negeri lain  bertanya tanah Banjarkah ini<br />
Orang membayangkan yang namanya tanah Banjar itu mesti elok<br />
Banyak rumah bubungan tinggi rumah gajah baliku rumah palimasan rumah palimbangan<br />
Kalau sudah begini tak dapat lagi bicara<br />
Seperti apa banyak rumah mencangkok bentuk rumah orang barat</p>
<p>Seyogyanyalah orang Banjar jangan sampai kehilangan jiwa kebanjarannya<br />
Siapa lagi yang memelihara tanah tumpah darah ini kalau tidak kita sendiri<br />
Apalagi kalau ingin maju seperti negeri orang<br />
Jangan suka bersengketa sesama warga sendiri</p>
<p>Duduk di ujung lanting ada jugalah terteduh hati<br />
Melihat ilung berbunga di tengah tubuh sungai<br />
Walau hanya berupa ilung tapi tetap menunjukan nuansa negri Banjar<br />
Melihat jukungjukung merenda riwayat negeri yang beruntungbertuah</p>
<p>Bbaru, 2009</p>
<p>**  * ilung = eceng gondok<br />
       bauntungbatuah = sangat dicintai (beruntung bertuah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/dari-antologi-puisi-bhsbanjar-dan-terjmhn-bgsindons-burinik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Perancis-Indonesia (1) : Musset &amp; Musset Sang Penyair</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/puisi-perancis-indonesia-1-musset-musset-sang-penyair/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/puisi-perancis-indonesia-1-musset-musset-sang-penyair/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 15:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Ringkas oleh : A.Kohar Ibrahim
BUKAN tak jarang orang dikisruhkan oleh nama-nama penyair serupa tapi beda seperti Musset dan Musset sang penyair yang menggores lembaran sejarah perpuisian Perancis. Terutama sekali bagi para pemula dalam mempelajari bahasa dan sastra bahasa Molliere itu. Lantaran dalam kenyataannya memang ada dua penyair Musset. Yang pertama hidup dalam pertengah Abad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Ringkas oleh : A.Kohar Ibrahim</p>
<p>BUKAN tak jarang orang dikisruhkan oleh nama-nama penyair serupa tapi beda seperti Musset dan Musset sang penyair yang menggores lembaran sejarah perpuisian Perancis. Terutama sekali bagi para pemula dalam mempelajari bahasa dan sastra bahasa Molliere itu. Lantaran dalam kenyataannya memang ada dua penyair Musset. Yang pertama hidup dalam pertengah Abad XIII adalah Colin Musset, terkenal sebagai penyair « vagabond » dengan muatan utama kreasi puisi terinspirasikan cintakasih. </p>
<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image4_img" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/Soq7HtLLjTI/AAAAAAAACNY/W7tSB0lopvo/S269/6329_1150606537609_1600987434_384961_7988828_n.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p>Sedangkan yang kedua, Alfred de Musset (1810-1857) – yang terkenal sebagai penyair kaum muda sepanjang masa. Dengan kreasi puisi cintakasihnya yang romantis, nyanyian suka-duka serta ironika manusia. Yang terungkap-angkat-kan juga dalam karya-karya sandiwara bersajaknya, seperti « Des Contes d’Espagne et d’Italie » atau « Dongeng-dongeng dari Spanyol dan Itali » (1829). Sedangkan di antara kreasi puisinya, selain yang panjang berjudul « Le Saul », juga sajak pendeknya «Tristesse » turut mengangkat namanya tersohor. Sebagai berikut :<span id="more-284"></span></p></blockquote>
<p>TRISTESSE</p>
<p>J’ai perdu ma force et ma vie,<br />
Et mes amis et ma gaîté ;<br />
Qui faisait croire à mon génie.</p>
<p>Quand j’ai connu la Vérité,<br />
J’ai cru que c’était une amie ;<br />
Quand je l’ai comprise et sentie,<br />
J’en étais déjà dégoûté.</p>
<p>Et pourtant elle est éternelle<br />
Et ceux qui se sont passés d’elle<br />
Ici-bas ont tout ignoré.</p>
<p>Dieu parle, il faut qu’on lui répondre.<br />
Le seul bien qui me reste au monde<br />
Est d’avoir quelquefois pleuré.</p>
<p>*<br />
KESEDIHAN</p>
<p>Ku kehilangan tenaga dan jiwa ku,<br />
Dan teman-teman ku juga gairah-ceria ku;<br />
Mereka yang percaya akan kejeniusan ku.</p>
<p>Manakala ku tahu kebenaran hakiki,<br />
Ku kira dia lah teman-perempuan ku;<br />
Begitu ku ketahui dan mengenalnya,<br />
Aku sudah merasa jenuh-jera.</p>
<p>Meski pun demikian dia abadi<br />
Dan mereka yang telah berurusan dengannya<br />
Di kolong langit ini semua tanpa peduli.</p>
<p>Tuhan bersabda, mestinya orang menyambutNya.<br />
Satu-satunya milik ku yang tersisa di dunia ini<br />
Iyalah kadang kala bisa mengalirkan air mata.</p>
<p>*<br />
Versi Indonesia karya terjemahan oleh A.Kohar Ibrahim dari bahasa Perancis : « La Tristesse » in «Le Livre d’Or de la Poésie français », Pierre Seghers, Marabout Université. *** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/puisi-perancis-indonesia-1-musset-musset-sang-penyair/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Penyair Dunia ( 4 )</title>
		<link>http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-4/</link>
		<comments>http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 15:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsyadindradi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsyadindradi.net/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[



George Noel Gordon Lord.Byron
Lahir di London, meninggal di Yunani (Missolunghi).Pelopor aliran Romantik di Eropah.Tulisannya adalah Fugitive Pieces (1806), Poems on Various Occasions (1807), Hours of Idleness (1807). Sajaknya yang terkenal adalah Childe’s Harold Pilgrimage, The Giaour, The Corsair, Lara. Salah satu sajaknya :
JADI TAK KAN LAGI KITA NGEMBARA
Jadi tak kan lagi kita ngembara
Masuk malam begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image19_img" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SdrXDMax6xI/AAAAAAAACLY/nhyHPIQyVyI/S269/G.L+Byron.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p>George Noel Gordon Lord.Byron<br />
Lahir di London, meninggal di Yunani (Missolunghi).Pelopor aliran Romantik di Eropah.Tulisannya adalah Fugitive Pieces (1806), Poems on Various Occasions (1807), Hours of Idleness (1807). Sajaknya yang terkenal adalah Childe’s Harold Pilgrimage, The Giaour, The Corsair, Lara. Salah satu sajaknya :</p>
<p>JADI TAK KAN LAGI KITA NGEMBARA</p>
<p>Jadi tak kan lagi kita ngembara<br />
Masuk malam begitu larut<br />
Walau pun hati setia mencinta<br />
Dan purnama belum menyusut</p>
<p>Hancur sarangnya, pedang utuh saja<br />
Dan mengatas tali, ruh hidupnya<br />
Dan untuk bernafas, jantung harus istirah<br />
Dan cinta sendiri punya istirah</p>
<p>Walau malam teruntuk bagi asmara<br />
Dan cepat nian siang baliknya<br />
Ya, tak kan lagi kita ngembara<br />
Bersuluh terang purnama<span id="more-281"></span></p></blockquote>
<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image17_img" src="http://2.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/S4Y7i-OukYI/AAAAAAAACOA/kVL6J16k3m8/S269/J.Keats.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p>John Keats<br />
Lahir di London dan meninggal di Roma. Keats mati muda karena sakit dan kasih tak sampai terhadap Fanny Brawne. Bersama temannya Byron dan Shelley mempelopori aliran romantik yang tertuang dalam karya sajaknya Poems (1817), Endymion (1818),Lamia, Isabella, The Eve of St.Agnes. Kumpulann sajaknya yang besar tak sempat diselesaikannnya adalah Hyperion. Salah satu sajaknya :</p>
<p>TENTANG MATI</p>
<p>Mungkinkah mati itu : tidur, bila hidup hanyalah mimpi<br />
Dan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu ?<br />
Segala kesenangan fana seakan-akan khayali<br />
Betapa pun, hemat kita: matilah terperih antara pilu</p>
<p>Alangkah anehnya : insane harus mengembarai bumi<br />
Dan walau hidup serba sengsara, namun masih saja<br />
Setia didalamnya keras dan tak ayal berani sendiri<br />
Menatap  bencana nanti, yang hakikatnya bangun belaka</p>
<div class="widget-content">
<img alt="" id="Image25_img" src="http://1.bp.blogspot.com/_Rz_jGLP9ulM/SdrXcNEEzQI/AAAAAAAACLw/tAy9UGDaa4U/S269/James+Joeyce.jpg" width="126" height="165"><br />

</div>
<p>James Joyce (1882-1941)<br />
Penyair Irlandia. Lahir di bDublin dan meninggal di Zurich (Swis). Ia belajar ilmu kedokteran di Dublin tapi kemudian menjadi guru bahasa dan professor di Triest (Itali) thn 1919. Himpunan sajaknya Chamber Music (1916), Himpunan cerpennya Dubliners (1914), Riwayat hidupnya Portrait of the Artist as a Young Man (1916) dan Romannya Ulyssus (1922), Anna Livia Plura bella (19280 DAN Finnegan’S Wake (1939). Salah satu sajaknya :</p>
<p>JALAN SETASION</p>
<p>Para mata yang mengejek menunuukkan jalan<br />
Kemana dikala senja langkah kuayun</p>
<p>Jalan kelabu, para tanda lilinnya, adalah<br />
Gemintang bergalau yang lagi main mata</p>
<p>Ah, bintang kejahatan ! bintang perih !<br />
Teruna yang angkuh tak lagi kembali</p>
<p>Meski arif hati tua, belum juga ia tahu<br />
Makna tanda yang di jalan mengejek daku</p>
<p>Dikutip oleh : Arsyad Indradi<br />
Dari : Puisi Dunia 2 Disusun oleh : M.Taslim Ali<br />
Penerbit : Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta,1961.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsyadindradi.net/tiga-penyair-dunia-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
