Himpunan Puisi “Dua Pintu Kita “-Utomo Soconingrat (Penyair Cilik) dari Negeri Angsa Putih
Utomo Soconingrat, Lahir di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, 13 Oktober 1999.Anak pertama dari dua bersaudara ini, mulai berniat menulis puisi sejak duduk di kelas 3 tepatnya saat gurunya Ibu Elita SPd menyuruh kakak dari Aulia Murti ini, membacakan puisi di depan kelas 3 Unggul SD Islam Al-Fallah. Seminggu setelah itu, puisi-puisi murid kelas 4 SD Islam Al-Fallah Jambi pun bermunculan.
Puisi-puisi anak dari pasangan Lilik Bekti Lestari (ibu) dan EM Yogiswara (bapak), pernah termuat di Harian Pagi Jambi Ekspres dan Harian Pagi Jambi Independent. Kini tinggal di Jalan H Ibrahim Blok E-7 RT 11 Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kotabaru, Jambi. Email: utomosoconingrat@gmail.com Puisi – Puisinya :
Matahari
Matahari
Sampai kapan kau menyinari bumi
Jangan pergi dari bumi
Kalau kau tak ada bumi bak kubur
Gulita dalam gelap
Matahari
Sampai kapan kau menjadi sumber kami
Jangan alfa memberi cahayamu
Jika kau tak ada bumi mati
Matahari
Sampai kapan apimu meredup
Gaib bersama bumi
Jambi, 20 Februari 2008
Dua Pintu Kita
Kita tidur di bumi
Bangun di akhirat
Kelak kita dilempar di dua pintu
Neraka atau surga
Kita tidur di bumi
Bangun di akhirat
Tiba waktunya
kita berbaris melewati dua pintu
Neraka atau surga
Dua pintu kita
Senantiasa menunggu
Jambi, 21 Februari 2008
Kolam I
Air jernih tak lagi jernih
Keruh oleh debu tubuh
Ombak-ombak kecil melepas canda riang
Gelembung mungil menarikan nafas kerdil
‘’Air, lukamu tak semerah mataku
Beningmu tak sebening pikiranku’’
Air jernih tak lagi jernih
Keruh oleh debu tubuh
Burung-burung menepi di tepi kolam
Mencari sisa makan perenang
Azan mengelam
Orang-orang melenggang pulang
Di kolam sepi
Sesekali bambu bernyanyi pilu
Melengkapi derita air
Jambi, 6 Maret 2008
Kolam II
Di kolam yang kotor
Tersimpan air kotor sisa sampah
‘’Air jernih tak lagi jernih
Keruh oleh debu tubuh’’
Di kolam yang kotor
Tergenang debu sisa abu
‘’Air jernih tak lagi jernih
Keruh oleh debu tubuh’’
Ombak-ombak kecil bermain bersama ikan
Hai ikan adakah kau rasa dingin
Adakah kau rasakan kelelahan
Adakah kau rasa nikmatnya tidur
Di kolam yang kotor
Tubuh ikan tak ikut kotor
Kungin menemanimu
Bermain bersama riangmu
Jambi, 6 Maret 2008
Ke Candi Muaro Jambi
Bersama sebagian sastrawan Indonesia
aku pun ikut berjalan menyusuri jalan setapak
(usai diombang-ambing Ketek)
Menuju perkampungan Candi Muaro Jambi
Di Candi Gumpung, Candi Tinggi
sastrawan berpencar memendar kekaguman
Berteman Naba kunaiki tubuh dan bukit candi
(para sastrawan pun ikut naik dan menikmati
tubuh candi yang jadi kebanggan Jambi)
Di atas, kukagumi dirimu candi
Berkulit bebatuan merah darah
Tak ada rayap-rayap
Yang menghancurkan dindingmu
Tegak lurus
Ya Allah
Engkau membuat mahkluk bermartabat
Menciptakan candi nan indah
Lalu esok adakah yang mengurusnya
Usai mengujungi percandian
Kami pulang (kembali dengan Ketek)
Beriring-iringan menyusuri Sungai Batanghari
Yang lelah menampung limbah manusia
Belum sampai di Tanggo Rajo
Kami disambut tangis langit
Jambi, 10 Juli 2008
Borobudur
Borobudur
Satu dari tujuh keajaiban dunia
55 ribu batu membangun dirimu
Berabad-abad sudah kau tegak kokoh
Sebagai bangunan suci
Dengan lebar dasar 123 meter
Kau tempat pengembangan agama Budha
Borobudur
Sang gunung mengamuk
Tinggi tubuhmu yang 42 meter
Tertimbun lahar panas
Hingga tertutup abu tanpa batas
Raffles menemukan dirimu
Yang telah menjelma semak belukar
Waktu itu, banyak bagian runtuh
Banyak patung rusak
Dengan kasih, reruntuhanmu disatukan
Kini Borobudur jadi mata dunia
Bukti sejarah masa lalu
Orang-orang senantiasa mengunjungimu
Mengagumimu, memujamu, mengambil wajahmu
Menimpa tubuhmu hingga ujung stupa
Hei! Adakah iba kasih kau tinggalkan?
Magelang-Jambi, November 2008
Baca Puisi Bersama Asrizal Nur ( Penyair Jakarta )
Aceh, Akhir 2004
Tahun mengerikan bagi Banda Aceh
Kiamat kecil melanda warganya
Tsunami yang besar meraup manusia,
rumah, dan kendaran serta harta benda lainnya
Orang-orang berlarian menyelematkan diri
Di rumah tinggi, di mesjid
Nyawa terselamatkan menyaksikan bangkai
Menyusuri perkotaan dan pulang ke laut
Allahu Akbar Allahu Akbar
Orang yang hidup membilang kata itu
Sampai Tsunami berhenti
Dari layar televisi
Kusaksikan Aceh menangis
Berulang-ulang
Jambi, 2008
Hutan Di Tengah Kota
Memasuki taman rimba
Hutan sunyi suara satwa
Hanya angin sepoi bergesekan
Di sisa hutan
Satwa hutan yang indah
Mencorok ke sana kemarin
Bagai pelangi di angkasa
Ya Allah
Kenapa ada perusakan hutan
Tak kasihankah engkau pada satwa
Yang kehujanan dan kepanasan
Seperti orang yang hidup
Satwa pingin hidup di hutannya
Namun hutan telah menjadi kota
Di huni manusia yang juga merasakan perubahan iklim
Dan mengabaikan peradaban
Jambi, 23 Februari 2009
Baca Puisi di hadapan Cagub Jambi Azri Nurdin






March 23rd, 2009 at 18:21
Wow, Tante kagum baca puisimu. Bagus-bagus.Terus nulis ya sayang. Salam sama papa dan mama di Jambi juga Pa De Dimas.
March 24th, 2009 at 07:31
Ungkapan yang sungguh tidak terkontaminasi dengan segala polusi hiruk pikuk dunia sastra. Murni, jujur dan bersahaja. Mantap.
March 24th, 2009 at 07:36
Aku suka puisi ini. Polos, lugu dan sangat menyentuh perasaan. Mana lagi puisinya ?
March 25th, 2009 at 08:12
mas tomo……bikinin lagi dong puisi buat sekolah tante…..(tahun lalu kan GURUKU)..bikin yang laen ya….
sekolahku….”paud mawar merah”…terusin dong….tante ngak bisa bikin puisi nih..(pokoknya ceritain soal sekolah taman kanak-kanak)
buku kumpulan puisinya udah terbit belum?..klo ke jakarta bawain yach….
March 27th, 2009 at 18:26
Sungguh murni dan menyentuh…semoga bisa menjadi penerus sastra yang hebat di kemudian hari.
Apa kabar Kakek?? Kakek, diriku merindukanmu bersuara dan melukis dijidatku, dan juga tamparan untuk melengkapi pikiranku dalam mengulang kembali tulisan-tulisanku. Atas pesan Bang Nanoq, aku harus kembali duduk di bangku sebelum berpentas.
Semoga Kakek selalu dilindungi olehNya. Amin.
March 27th, 2009 at 18:28
Oh iya, itu alamat emailnya Soco yang bisa dihubungi ya, aku akan beli bukunya.
March 28th, 2009 at 07:47
To : The Dexter. Alhamdulillah kakek sehat. Doakan agar kakek sukses dlm pentas tari di Malaysia acara Rampak Gendang Nusantara. Berangkat 10 April nanti. Iya itu email Tomo hubungi aja.
Salam Kakek.
March 29th, 2009 at 01:23
Tomo, bagus puisi-puisinya
walaupun msi kecil tapi sudah berbakat
smoga nanti klo sudah besar bisa jadi sastrawan besar, amien
March 29th, 2009 at 12:21
puisi utomo bagus, jujur. Terus berkarya, jangan lelah berpuisi dan membaca puisi. Kita senantiasa mendoakan agar Utomo menjadi sastrawan. Amin
April 3rd, 2009 at 13:42
|Hey dik, kau jadi tunasnya presiden penyair yang akan datang
April 24th, 2009 at 10:37
Mempesona…apik liriknya, enak dicerna, arah kata jelas. Pakdhe salut…slm dr mba aziza,aisya n anisa.
July 13th, 2009 at 02:11
teruskan penjelajahan dunia imajinasimu semoga menjadi satrawan dunia yang mengharumkan negeri angsa putih ,oke may boy
October 19th, 2009 at 03:16
Lanjutkan karya-karyamu ya Dik,,
ka2 bangga padamu di usia beliamu, kamu dapat menciptakan berbagai puisi yang menyentuh..
kpan ne bukun terbarunya diterbitkn….?????