Tiga Penyair Dunia ( 4 )
George Noel Gordon Lord.Byron
Lahir di London, meninggal di Yunani (Missolunghi).Pelopor aliran Romantik di Eropah.Tulisannya adalah Fugitive Pieces (1806), Poems on Various Occasions (1807), Hours of Idleness (1807). Sajaknya yang terkenal adalah Childe’s Harold Pilgrimage, The Giaour, The Corsair, Lara. Salah satu sajaknya :
JADI TAK KAN LAGI KITA NGEMBARA
Jadi tak kan lagi kita ngembara
Masuk malam begitu larut
Walau pun hati setia mencinta
Dan purnama belum menyusut
Hancur sarangnya, pedang utuh saja
Dan mengatas tali, ruh hidupnya
Dan untuk bernafas, jantung harus istirah
Dan cinta sendiri punya istirah
Walau malam teruntuk bagi asmara
Dan cepat nian siang baliknya
Ya, tak kan lagi kita ngembara
Bersuluh terang purnama
John Keats
Lahir di London dan meninggal di Roma. Keats mati muda karena sakit dan kasih tak sampai terhadap Fanny Brawne. Bersama temannya Byron dan Shelley mempelopori aliran romantik yang tertuang dalam karya sajaknya Poems (1817), Endymion (1818),Lamia, Isabella, The Eve of St.Agnes. Kumpulann sajaknya yang besar tak sempat diselesaikannnya adalah Hyperion. Salah satu sajaknya :
TENTANG MATI
Mungkinkah mati itu : tidur, bila hidup hanyalah mimpi
Dan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu ?
Segala kesenangan fana seakan-akan khayali
Betapa pun, hemat kita: matilah terperih antara pilu
Alangkah anehnya : insane harus mengembarai bumi
Dan walau hidup serba sengsara, namun masih saja
Setia didalamnya keras dan tak ayal berani sendiri
Menatap bencana nanti, yang hakikatnya bangun belaka
James Joyce (1882-1941)
Penyair Irlandia. Lahir di bDublin dan meninggal di Zurich (Swis). Ia belajar ilmu kedokteran di Dublin tapi kemudian menjadi guru bahasa dan professor di Triest (Itali) thn 1919. Himpunan sajaknya Chamber Music (1916), Himpunan cerpennya Dubliners (1914), Riwayat hidupnya Portrait of the Artist as a Young Man (1916) dan Romannya Ulyssus (1922), Anna Livia Plura bella (19280 DAN Finnegan’S Wake (1939). Salah satu sajaknya :
JALAN SETASION
Para mata yang mengejek menunuukkan jalan
Kemana dikala senja langkah kuayun
Jalan kelabu, para tanda lilinnya, adalah
Gemintang bergalau yang lagi main mata
Ah, bintang kejahatan ! bintang perih !
Teruna yang angkuh tak lagi kembali
Meski arif hati tua, belum juga ia tahu
Makna tanda yang di jalan mengejek daku
Dikutip oleh : Arsyad Indradi
Dari : Puisi Dunia 2 Disusun oleh : M.Taslim Ali
Penerbit : Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta,1961.





